Bongkar Rahasia Cuan! JFF 2026 Ungkap Masa Depan Ekonomi RI

Bongkar Rahasia Cuan! JFF 2026 Ungkap Masa Depan Ekonomi RI

Haluannews Ekonomi – Penyelenggaraan Jogja Financial Festival (JFF) 2026 di Jogja Expo Center (JEC) telah sukses besar, menjadi magnet bagi para tokoh penting dan pemimpin perusahaan ternama selama dua hari. Acara ini secara strategis dirancang untuk memacu diskusi mendalam dan berbagi perspektif guna mendorong peningkatan literasi keuangan di tengah masyarakat.

COLLABMEDIANET

Visi Para Pemimpin untuk Ekonomi Berkelanjutan

Bongkar Rahasia Cuan! JFF 2026 Ungkap Masa Depan Ekonomi RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, dalam sesi hari kedua, secara khusus mengajak pelajar dan mahasiswa untuk mengoptimalkan potensi festival keuangan ini. Menurutnya, ajang seperti JFF sangat bermanfaat untuk pengembangan kualitas diri dan eksplorasi potensi di sektor finansial. "Kunci kemajuan sektor keuangan adalah disiplin, tata kelola yang kuat, pemberdayaan sumber daya manusia, serta bisnis yang menguntungkan, yang pada akhirnya akan berujung pada profitabilitas optimal," tegas Anggito di JFF 2026.

Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyambut baik inisiatif JFF 2026, menilai kegiatan ini sebagai katalisator positif bagi perekonomian Yogyakarta. "Kami sangat gembira, acara semacam ini sangat membantu ekonomi Jogja. Seperti yang disampaikan teman-teman ISEI, Jogja tumbuh berkat ekonomi berbasis keramaian. Kami berharap acara seperti ini bisa rutin setiap minggu," ujarnya.

Senada, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menekankan pentingnya penguatan kualitas diri bagi pelajar dan mahasiswa agar mampu bersaing di era teknologi saat ini. Ia mencontohkan Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, sebagai teladan tokoh yang sukses berkat peningkatan kualitas diri, meskipun berasal dari latar belakang keluarga biasa. "Satu hal yang harus dimiliki setiap pelajar atau mahasiswa, terlepas dari latar belakang keluarganya, adalah kualitas diri. Memperkuat kapasitas pribadi adalah kekayaan tak ternilai," kata Misbakhun dalam sesi one on one. Ia berharap peserta dapat memanfaatkan kesempatan belajar di JFF 2026 untuk memperkuat kemampuan pribadi dari para pakar ekonomi dan keuangan.

Transformasi Perbankan: Digitalisasi dan Inklusi Keuangan

Sesi Business Talks JFF 2026 turut menghadirkan pucuk pimpinan perbankan nasional yang tak hanya memaparkan peran bank dalam menggerakkan ekonomi, tetapi juga membahas literasi dan inklusi keuangan. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), Hery Gunardi, menyoroti evolusi perbankan yang krusial mengingat fungsi intermediasi bank. "Dari aktivitas penyaluran dana, perbankan mendapatkan margin, yang kita sebut net interest margin. Di situlah kelangsungan operasional bank. Artinya, bank harus memiliki banyak nasabah," jelasnya.

BRI, lanjut Hery, terus bertransformasi dengan menghadirkan layanan digital seperti Brimo Mobile Banking, yang kini memiliki lebih dari 60 juta pengguna. "Transaksi harian Brimo mencapai Rp32 triliun, dengan total setahun mencapai Rp7.500 triliun," ungkap Hery, menunjukkan bukti nyata evolusi perbankan.

Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengandalkan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dan digitalisasi untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat unbanked atau yang belum terjangkau layanan perbankan. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan fokus utama BTN adalah KPR yang didukung pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan bahwa perbankan syariah memiliki peran krusial dalam membangun ekonomi yang berkeadilan, transparan, berkelanjutan, dan bermanfaat. "Peran perbankan syariah adalah mendorong pertumbuhan UMKM agar berkelanjutan," tegas Anggoro, menambahkan bahwa BSI juga masuk ke ekosistem syariah seperti pesantren, halal lifestyle, haji, hingga umroh.

Direktur Treasury & International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Abu Santosa Sudradjat, menyoroti digitalisasi dan jaringan global sebagai aset strategis BNI untuk membantu pelaku usaha Indonesia menembus pasar internasional. BNI memiliki delapan financial center dan 10 cabang internasional sebagai jembatan bagi bisnis Indonesia menembus kancah global. "Banyak UMKM Indonesia memiliki produk unggulan dan potensi besar, namun tantangan terbesar adalah akses dan konektivitas internasional," terangnya.

Namun, Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Novita Widya Anggraini, mengingatkan bahwa ketergantungan masyarakat Indonesia pada transaksi tunai masih signifikan, meskipun layanan digital banking dan penggunaan internet oleh generasi muda terus meningkat pesat. "Data kami menunjukkan sekitar 39% transaksi masyarakat masih bersifat tunai," ungkap Novita, menggarisbawahi perlunya akselerasi adopsi transaksi digital.

Sektor Strategis: Dari Tambang hingga Pasar Modal

Sesi CEO Talks menghadirkan Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, yang mengupas tuntas isu pertambangan. Ia menilai, pertambangan, yang seringkali disalahpahami sebagai industri destruktif, sejatinya adalah tulang punggung peradaban. "Lahan yang digunakan untuk pertambangan kurang dari 1% dari seluruh daratan. Nikel, misalnya, justru banyak digunakan untuk tujuan positif, yaitu mendorong transisi energi," jelas Bernardus. Nikel, sebagai bahan baku utama katoda baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi terbarukan, menjadi bukti komitmen Vale terhadap "sustainable nikel."

Dalam sesi Financial Market: Bonds and Capital, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan strategi pemerintah dalam menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai APBN. "APBN adalah instrumen penting pembangunan. Desain defisit APBN adalah cara kita mengelola APBN secara ekspansif. Pemerintah perlu belanja lebih besar agar ekonomi bergerak lebih kuat," imbuh Suminto.

PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyampaikan keyakinan kuat akan prospek cerah pasar modal Indonesia pada 2026, didukung tingginya minat investasi masyarakat, khususnya generasi muda. "Jumlah investor tumbuh dari 4-5 juta menjadi 10 juta selama dua tahun pandemi Covid-19. Sekarang sudah mencapai 27,4 juta investor, naik dua kali lipat dalam lima tahun," terang Jeffrey, menunjukkan lonjakan signifikan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Reynaldi Hermansjah, mengungkapkan strategi SMI dalam mempertahankan rasio kredit bermasalah (NPL) yang sangat rendah di tengah kompleksitas risiko pembiayaan proyek infrastruktur jangka panjang. Hingga akhir 2025, SMI telah membiayai 492 proyek kumulatif di seluruh Indonesia dengan total pembiayaan Rp274,96 triliun.

Kontribusi BUMN untuk Negeri

Tak kalah menarik, sesi One on One Executive bersama Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara/Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria, mengupas tuntas kontribusi BUMN yang sering menjadi sorotan publik. Dony menegaskan bahwa kontribusi BUMN mencapai sepertiga dari APBN RI, baik dalam bentuk dividen maupun pajak.

Pada tahun 2025, keuntungan BUMN Indonesia mencapai Rp335 triliun dengan kontribusi pajak Rp215 triliun. Untuk tahun ini, Dony memperkirakan keuntungan BUMN bisa mencapai Rp360 triliun, dan menargetkan keuntungan minimal Rp450 triliun dalam tiga tahun ke depan. "Saya sendiri punya harapan paling tidak ketika saya pensiun (2029), keuntungan BUMN bisa mencapai sedikitnya Rp450 triliun," pungkasnya.

JFF 2026 tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga platform edukasi dan inspirasi bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memahami dinamika ekonomi dan keuangan, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar