Haluannews Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Pemerintah Republik Indonesia secara ambisius menginisiasi program pembenahan komprehensif terhadap industri pasar modal nasional. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat fondasi likuiditas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor, baik domestik maupun global.

Related Post
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa percepatan reformasi ini merupakan komitmen bersama. "OJK, bersama dengan Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), berkomitmen untuk menjalankan reformasi yang berani dan ambisius di pasar modal Indonesia," ungkap Friderica, yang akrab disapa Kiki, dalam keterangan tertulis yang diterima Haluannews.id pada Senin (2/2/2026). Ia menambahkan bahwa reformasi ini akan selaras dengan praktik terbaik internasional dan memenuhi ekspektasi Global Index Provider.

Kiki menjelaskan, terdapat delapan rencana aksi yang telah dirancang dan dikelompokkan ke dalam empat klaster utama. Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia, menjadikannya lebih ‘investable’ serta berperan vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Empat klaster tersebut meliputi kebijakan free float, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta sinergitas antarotoritas dan pemangku kepentingan. Masing-masing klaster akan diimplementasikan secara bertahap dengan rencana aksi yang konkret.
Senada, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menggarisbawahi pentingnya menjaga kepercayaan investor. Menurutnya, OJK akan terus hadir secara nyata untuk melindungi investor dan memastikan pasar modal Indonesia tumbuh sehat, berintegritas, dan berdaya saing global. Hasan juga menekankan komitmen OJK agar pasar modal Indonesia tetap solid dan terpercaya di masa depan, menjadikannya salah satu pilar utama penopang perekonomian nasional.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyatakan kesiapan BEI untuk meningkatkan transparansi sesuai dengan permintaan MSCI. Langkah ini merupakan bagian dari upaya percepatan reformasi integritas dan peningkatan kepercayaan investor global. "Apa yang akan kami lakukan untuk melakukan pendalaman dari sisi demand khususnya, agar lebih banyak lagi investor asing masuk dengan penambahan bobot Indonesia di dalam konstituen," tegas Jeffrey. Ia menambahkan, SRO akan terus meningkatkan kualitas disclosure sebagai bagian dari upaya tersebut.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, turut menekankan bahwa pertumbuhan pasar modal tidak hanya diukur dari kapitalisasi pasar, tetapi juga dari kualitas dan akuntabilitas bursa efek. Menurutnya, tata kelola yang baik dan benar adalah kunci utama untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan sehat.
Reformasi ini menandai babak baru bagi pasar modal Indonesia, dengan harapan dapat menarik lebih banyak investasi, meningkatkan efisiensi, dan pada akhirnya, memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan ekonomi bangsa.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar