haluannews.id – Bursa saham Indonesia kembali tertekan hebat pada perdagangan Kamis 24 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas di sesi pertama hingga penutupan siang, memicu kekhawatiran di kalangan investor. Penurunan signifikan ini bukan tanpa sebab, sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, turut membebani pergerakan indeks.

Related Post
Hingga siang hari, IHSG parkir di level 6.307,11, anjlok 67,8 poin atau setara 1,06%. Kondisi pasar tampak muram, dengan mayoritas saham mengalami koreksi. Tercatat hanya 184 saham yang mampu menguat, sementara 472 saham melemah, dan 307 saham lainnya stagnan tanpa pergerakan berarti.

Sejak dibuka, indeks sudah menunjukkan sinyal pelemahan tipis di 6.364,98. Sempat menyentuh puncak harian di 6.368,57 pada awal perdagangan, namun tak lama kemudian tekanan jual mendominasi, membuat indeks terus melorot. IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah 6.304,01, yang hanya terpaut tipis dari posisi penutupan sesi siang. Rentang gerak indeks sepanjang hari ini mencapai sekitar 65 poin. Aktivitas perdagangan pada sesi pertama tercatat cukup ramai, dengan sekitar 16,32 miliar saham berpindah tangan, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp5,32 triliun.
Penurunan IHSG ini tak lepas dari respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuannya. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026), menegaskan langkah ini sejalan dengan mayoritas prediksi analis yang sebelumnya dilakukan oleh haluannews.id. Ini merupakan kali ketiga BI menahan suku bunga secara berturut-turut sejak Juli 2026, setelah sebelumnya menaikkan secara kumulatif 100 basis poin sepanjang Mei-Juni.
Selain keputusan BI, investor juga mencermati perkembangan aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar di Tanah Air. Sementara itu, dari kancah global, pasar dihadapkan pada "badai" baru yang berpotensi mengguncang. Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perhatian utama, namun yang lebih mendominasi adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) serta penguatan indeks dolar.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun meroket tajam pada Rabu (23/9/2026), menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade. Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level yang terakhir terlihat pada tahun 2007. Kenaikan ini krusial karena yield Treasury menjadi acuan utama bagi biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi, mulai dari kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan bisnis. Lonjakan ini dipicu oleh data S&P Global yang menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh tercepat sejak Juli 2021, diiringi kenaikan biaya input akibat harga energi. Situasi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi.
Tak hanya tenor 10 tahun, imbal hasil Treasury 30 tahun juga melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, mencapai level tertinggi tahun ini dan tertinggi sejak 2004 untuk penutupan. Yield Treasury 2 tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024. Bahkan, yield Treasury 5 tahun sempat menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia, sebab berpotensi memicu lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan pada akhirnya menambah beban utang pemerintah.








Tinggalkan komentar