haluannews.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis 24 September 2026. Indeks acuan ini terperosok dalam, menutup perdagangan di zona merah dengan anjlok 1,20% atau 76,31 poin, mencapai level 6.298,61. Apa yang sebenarnya terjadi di balik pelemahan signifikan ini?

Related Post
Pergerakan IHSG sepanjang hari itu menggambarkan sentimen pasar yang lesu. Dibuka dengan gap melemah di 6.364,98, indeks sempat mencoba bangkit namun tak mampu bertahan. Level tertinggi 6.368,57 hanya sesaat terlihat di awal perdagangan, sebelum tekanan jual masif menyeretnya ke titik terendah 6.287,46. Dominasi penjual terlihat jelas dengan 487 saham yang rontok, jauh melebihi 198 saham yang berhasil menguat. Volume transaksi mencapai 25,3 miliar saham dengan total nilai Rp9,69 triliun, menandakan aktivitas jual beli yang sangat agresif.

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan menjadi salah satu sorotan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, BI memutuskan untuk menahan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga tetap di 4,75% dan 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan keputusan ini, yang sejalan dengan mayoritas proyeksi analis. Langkah ini menandai penahanan suku bunga untuk ketiga kalinya berturut-turut, setelah serangkaian kenaikan agresif pada Mei-Juni 2026.
Namun, tekanan terbesar disinyalir berasal dari kancah global, khususnya Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak drastis pada perdagangan Rabu 23 September 2026, mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat dalam hampir dua dekade terakhir. Yield krusial ini melesat 15 basis poin, menyentuh 5,11%, bahkan sempat menembus 5,14%. Fenomena ini sangat signifikan mengingat yield tersebut menjadi acuan penting bagi biaya pinjaman di seluruh dunia.
Pemicu lonjakan yield ini adalah data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021, diiringi kenaikan tajam biaya input akibat melonjaknya harga energi. Situasi ini memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih akan menempuh kebijakan moneter ketat, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Tak hanya tenor 10 tahun, yield Treasury 30 tahun juga melambung ke 5,4%, dan yield 2 tahun yang sangat sensitif terhadap kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%.
Implikasi dari kenaikan imbal hasil obligasi AS ini tentu saja tidak menguntungkan bagi Indonesia. Lonjakan ini berpotensi memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) domestik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan beban utang pemerintah. Ini menjadi tantangan serius yang menambah daftar panjang faktor penekan bagi pasar keuangan Tanah Air.










Tinggalkan komentar