haluannews.id – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang kini mencapai 5,50% memicu respons signifikan dari sektor perbankan, khususnya bank digital. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai langkah bank-bank digital untuk menaikkan suku bunga deposito sebagai sesuatu yang wajar dan merupakan adaptasi terhadap kondisi pasar terkini.

Related Post
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa bank digital memiliki karakteristik unik yang membuat mereka sangat bergantung pada dana pihak ketiga (DPK). Ketergantungan ini, terutama pada dana yang tergolong "mahal", mendorong mereka untuk lebih agresif dalam menarik simpanan masyarakat. Persaingan dengan bank-bank konvensional yang lebih besar dalam menggaet DPK juga menjadi faktor pendorong utama.

"Jika terkait deposito, ini sangat masuk akal. Bank digital, dalam banyak aspek, sangat mengandalkan dana pihak ketiga yang biayanya cukup tinggi," ujar Dian saat ditemui di Gedung DPR RI. Ia menambahkan, keberanian bank-bank digital dalam menaikkan suku bunga deposito menunjukkan keyakinan mereka terhadap stabilitas sistem keuangan nasional. "Saya yakin mereka sudah melakukan kalkulasi matang. Jika risiko meningkat, mereka tidak akan berani mengambil langkah ini. Ini menandakan kepercayaan terhadap sistem masih terjaga," tegasnya.
Dian juga mengakui potensi peningkatan persaingan di industri perbankan seiring dengan kenaikan suku bunga acuan. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa kondisi likuiditas pasar uang antarbank sejauh ini tetap kondusif dan menunjukkan progres yang normal. "Pasar uang antarbank masih stabil, tidak ada lonjakan permintaan yang ekstrem. Penawaran dan permintaan berjalan seperti biasa," jelas Dian berdasarkan data terakhir.
Di sisi lain, pelaku industri perbankan juga mulai mengambil ancang-ancang. Komisaris PT Bank Jago Tbk. (ARTO), Anika Faisal, memprediksi bahwa kenaikan BI Rate akan secara bertahap meningkatkan biaya pendanaan atau Cost of Fund (CoF). Kondisi ini umumnya diikuti dengan penyesuaian suku bunga deposito bank, meski perlu kajian lebih lanjut. "Kita harus mengkaji dan melihat situasinya. Mungkin tidak langsung, tapi pasti akan ada kenaikan bertahap. Kita sudah memasuki era suku bunga yang cenderung naik," ungkap Anika.
Sementara itu, PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) telah mempersiapkan diri dengan memperkuat struktur pendanaan mereka. Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, mengungkapkan bahwa rasio CASA (Current Account Savings Account) di entitas anak usaha BRI ini menunjukkan tren positif hingga kuartal I-2026. "Ini akan menjadi modal penting bagi kami dalam menyikapi perkembangan suku bunga ke depan," kata Kicky dalam Public Expose Live BEI.










Tinggalkan komentar