Bank Kalap! Pilih Surat Utang Saat Kredit Seret?

Bank Kalap! Pilih Surat Utang Saat Kredit Seret?

Haluannews Ekonomi – Sejumlah bank menengah (KBMI III) terpantau agresif mengakumulasi surat berharga dalam setahun terakhir. Fenomena ini terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan kredit dan simpanan masyarakat yang menghantui industri perbankan sepanjang tahun ini.

COLLABMEDIANET

Kondisi ini mengundang perhatian Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, yang menyoroti preferensi bank untuk berinvestasi pada surat berharga dan memperketat standar penyaluran kredit sebagai salah satu faktor penyebab lesunya pertumbuhan kredit.

Bank Kalap! Pilih Surat Utang Saat Kredit Seret?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Data menunjukkan, PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) mencatat lonjakan penempatan dana di surat berharga negara sebesar 80,4% year on year (yoy), mencapai Rp50,86 triliun pada Mei 2025. Sebaliknya, pertumbuhan kredit mereka justru terkontraksi -4,34% yoy menjadi Rp123,67 triliun pada periode yang sama.

Presiden Direktur PaninBank, Herwidayatmo menjelaskan bahwa peningkatan investasi pada surat berharga terutama terjadi pada kuartal IV-2024. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap permintaan kredit yang lemah pada tahun sebelumnya. "Dalam kondisi pertumbuhan kredit yang terbatas tahun lalu, PaninBank memilih investasi yang aman dan memberikan yield yang masih cukup baik, berupa surat berharga," ujarnya kepada Haluannews.id, Jumat (18/7/2025).

Senada, PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) mencatatkan pertumbuhan kepemilikan surat berharga sebesar 18,55% yoy menjadi Rp77,11 triliun pada Mei 2025. Direktur OCBC Indonesia, Hartati menyatakan bahwa penempatan kelebihan likuiditas pada surat berharga merupakan bagian dari manajemen likuiditas untuk mengoptimalkan imbal hasil. "Pada saat bersamaan, bank tetap mengoptimalkan fungsi intermediasi-nya dengan fokus pada pertumbuhan CASA dan dalam menyalurkan kredit dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian ditengah kondisi yang masih penuh tantangan," kata Hartati kepada Haluannews.id, Jumat (18/7/2025).

Pertumbuhan kredit OCBC Indonesia tercatat naik 6,37% yoy menjadi Rp164,51 triliun pada Mei 2025, masih di bawah target pertumbuhan kredit BI sebesar 8%-11% pada akhir tahun 2025.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) juga mencatatkan pertumbuhan kredit yang relatif kecil, yaitu 5,2% yoy menjadi Rp366,5 triliun pada Mei 2025. Sementara itu, pertumbuhan kepemilikan surat berharga bank pelat merah ini jauh lebih tinggi, mencapai 11,49% yoy menjadi Rp63,63 triliun pada periode yang sama.

Direktur Finance & Strategi BTN, Nofry Rony Poetra, menegaskan bahwa permintaan dan pertumbuhan kredit di BTN masih baik. Ia menambahkan bahwa penempatan surat berharga merupakan bagian dari strategi investasi dan manajemen likuiditas. "Demand dan growth kredit di BTN bagus. Penempatan di surat berharga sesuai strategi investasi dan pengelolaan likuiditas," jelas Nofry kepada Haluannews.id, Jumat (18/7/2025).

Selain ketiga bank tersebut, PT Bank Permata Tbk. (BNLI) juga mencatatkan kenaikan signifikan pada kepemilikan surat berharga, yaitu sebesar 29,80% yoy menjadi Rp66,33 triliun pada Mei 2025. Meskipun demikian, pertumbuhan kredit bank milik Bangkok Bank ini mampu tumbuh lebih tinggi dari rata-rata industri perbankan, yaitu sebesar 9,5% yoy menjadi Rp159,83 triliun pada periode yang sama.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai bahwa kecenderungan bank untuk menempatkan dana pada surat berharga dapat menjadi salah satu penyebab lesunya pertumbuhan kredit perbankan tahun ini. Namun, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang belum kondusif. "Bank juga memerlukan instrumen produktif yang lebih aman ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya membaik, serta harus menjaga likuiditas bank," kata Trioksa kepada Haluannews.id, Jumat (18/7/2025).

Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menambahkan bahwa penempatan dana bank di obligasi disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi dan lemahnya permintaan kredit yang berkualitas. "Di tengah kondisi ekonomi global yang masih rentan dan risiko kredit yang meningkat, bank cenderung mencari instrumen yang lebih aman dan likuid seperti SBN yang menawarkan imbal hasil pasti dan risiko gagal bayar sangat rendah," jelas Arianto kepada Haluannews.id, Jumat (18/7/2025).

Terlebih lagi, permintaan kredit dari sektor riil yang belum sepenuhnya pulih membuat bank lebih memilih menunggu momentum yang tepat sambil menjaga kualitas aset.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar