Bank Cuan Besar Kok Sahamnya Dibuang Investor Ini Sebabnya

Bank Cuan Besar Kok Sahamnya Dibuang Investor Ini Sebabnya

haluannews.id – Deretan bank raksasa Tanah Air menunjukkan performa finansial yang perkasa sepanjang paruh pertama tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan OJK bahkan menyatakan revisi rencana bisnis bank RBB untuk semester kedua tidak akan signifikan. Namun, anehnya kondisi fundamental yang cemerlang ini justru berbanding terbalik dengan pergerakan saham mereka di bursa.

COLLABMEDIANET

Ambil contoh PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk BBTN yang membukukan laba bersih fantastis sebesar Rp 24 triliun melesat 408 persen secara tahunan. Sementara itu PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI juga tak kalah gemilang dengan mengantongi keuntungan Rp 304 triliun atau tumbuh 244 persen year-on-year. Bank-bank besar lainnya pun diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang kuat. PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI melaporkan laba individu per Mei 2026 mencapai Rp 2042 triliun naik 952 persen dan PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk BBNI pada periode yang sama tumbuh 706 persen menjadi Rp 905 triliun.

Bank Cuan Besar Kok Sahamnya Dibuang Investor Ini Sebabnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun realitas di pasar modal hari ini sungguh kontras. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG anjlok dalam tertekan oleh saham-saham perbankan yang terkikis cukup signifikan. Mengutip data Refinitiv saham BMRI menjadi penekan utama IHSG dengan bobot minus 2211 poin disusul BBCA minus 1245 poin dan BBNI minus 372 poin. Totalnya IHSG merosot lebih dari 100 poin.

Para analis pasar membeberkan sejumlah faktor utama yang membuat harga saham perbankan belum mampu bangkit. Salah satu penyebab dominan adalah eksodus dana investor asing dan kebijakan suku bunga acuan. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menjelaskan bahwa pergerakan saham perbankan yang masih lesu bukan disebabkan oleh memburuknya fundamental melainkan tekanan utama masih datang dari arus dana global yang belum sepenuhnya berbalik arah ke pasar saham Indonesia.

Ekky menyoroti bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA BMRI BBRI dan BBNI merupakan salah satu tujuan utama investor asing di IHSG. Hal ini karena kapitalisasi pasar mereka yang besar likuiditas tinggi serta bobot yang signifikan dalam indeks. Oleh karena itu ketika investor asing melakukan penjualan tekanan paling cepat terasa pada saham-saham bank tersebut. Secara kumulatif investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia sekitar 39 miliar dolar AS hingga Juni 2026 dan tekanan jual masih terlihat pada sejumlah bank besar di pertengahan Juli.

Selain itu Ekky menambahkan bahwa penguatan saham bank sebelumnya lebih banyak bersifat technical rebound setelah mencapai titik terendah. Ketika laporan keuangan dirilis sesuai ekspektasi dan tidak memberikan kejutan positif yang jauh lebih besar investor cenderung melakukan aksi ambil untung. Pasar juga lebih cermat mencermati kualitas pertumbuhan laba seperti perkembangan margin bunga bersih NIM biaya pendanaan cost of fund dan biaya kredit cost of credit bukan hanya sekadar pertumbuhan laba bersih.

Keputusan Bank Indonesia BI pekan ini untuk mempertahankan BI-Rate di level 575 persen dinilai cukup positif karena mengurangi risiko tambahan kenaikan biaya dana dan perlambatan kredit. Namun Ekky mengingatkan bahwa BI masih perlu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan menarik kembali aliran modal asing di tengah tingginya harga minyak serta ketidakpastian global. Dengan kata lain sentimen makro terhadap saham bank belum sepenuhnya kondusif. Selama arus dana asing belum berbalik menjadi net buy secara konsisten pergerakan saham perbankan kemungkinan masih cenderung fluktuatif dan sulit mengalami penguatan yang merata.

Ekky menyimpulkan fundamental sektor perbankan masih cukup kuat namun kenaikan harga saham membutuhkan konfirmasi berupa stabilitas Rupiah perbaikan margin kualitas aset yang tetap terjaga serta kembalinya dana asing secara berkelanjutan.

Sementara itu Managing Director Solstice Indonesia Handiman menyebut prospek kinerja perbankan di semester II 2026 masih cukup menantang. Hal ini tidak lepas dari tingginya suku bunga acuan yang mengerek beban pendanaan. Likuiditas di sektor perbankan kian mengetat yang ditunjukkan oleh spread Indonia yang melebar di atas BI Rate serta rasio perbandingan pinjaman dengan simpanan atau loan to deposit ratio LDR yang terus meningkat dan besarnya dana yang terserap ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia SRBI.

Handiman juga menambahkan bahwa kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM non-subsidi pelemahan kurs dan gangguan rantai pasok global berisiko menghambat laju pertumbuhan kredit dan mengakibatkan perburukan aset kredit yang tercermin dari rasio nonperforming loan NPL. Meskipun demikian beberapa bank tetap memasang target pertumbuhan kredit yang konservatif meski kredit semester I 2026 jauh di atas target tahunan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar