Awas Guncangan Energi IMF Beri Peringatan Keras

Awas Guncangan Energi IMF Beri Peringatan Keras

haluannews.id – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengeluarkan peringatan tegas. Meskipun ekonomi global sejauh ini menunjukkan ketahanan mengejutkan dalam menghadapi gejolak harga energi akibat konflik di Timur Tengah, ancaman guncangan baru masih jauh dari usai. Dunia diminta tidak lengah, sebab kondisi fiskal banyak negara justru kian tertekan di tengah potensi lonjakan harga energi yang terus membayangi.

COLLABMEDIANET

Georgieva, dalam keterangannya yang dikutip dari laporan Reuters pada Minggu (30/8/2026), menyebutkan bahwa ketahanan ekonomi global dalam menahan tekanan energi pasca-penutupan Selat Hormuz jauh lebih baik dari perkiraan awal IMF. Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan tingkat menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, pada 25 Agustus 2026. Ia mengamati adanya "tarik-menarik" antara tekanan negatif dari gangguan pasokan di Teluk dan dorongan positif dari investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) yang kini merambah ke berbagai negara di luar Amerika Serikat.

Awas Guncangan Energi IMF Beri Peringatan Keras
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, Georgieva menggarisbawahi bahwa risiko terhadap prospek ekonomi global, meski kini lebih seimbang dibanding proyeksi April lalu, tetap cenderung mengarah ke sisi negatif. Pembengkakan tekanan fiskal dan kemungkinan bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk menekan inflasi menjadi faktor utama kekhawatiran ini.

Ekonomi dunia berhasil menopang diri di tengah badai utang yang tinggi, inflasi yang membandel, dan ketegangan perdagangan antarnegara. Keberhasilan ini, menurut Georgieva, didorong oleh kombinasi strategi cerdas: pemanfaatan cadangan minyak dan gas, peningkatan pasokan energi dari wilayah non-Teluk, penurunan permintaan global, ekspansi energi terbarukan, bahkan kembali digunakannya pembangkit listrik tenaga batu bara di beberapa negara. Di samping itu, gelombang investasi AI di AS turut menjaga profitabilitas korporasi dan daya beli konsumen tetap kuat, sebuah tren yang mulai menular ke negara-negara lain yang gencar membangun pusat data dan memperkuat rantai pasok perangkat keras AI.

Meski demikian, Georgieva tidak merilis proyeksi ekonomi terbaru dalam kesempatan ini. IMF sebelumnya pada Juli lalu telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,0%, seraya mengingatkan potensi risiko tambahan dari konflik di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, serta ketidakpastian seputar AI. Proyeksi yang lebih detail dijadwalkan akan diumumkan pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, pertengahan Oktober mendatang.

"Guncangan energi ini belum berakhir," tegas Georgieva. Ia memperingatkan bahwa jika harga minyak kembali melonjak, inflasi baru dapat terpicu, memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat. Konsekuensinya adalah peningkatan biaya pembayaran utang dan perlambatan aktivitas ekonomi secara umum. Oleh karena itu, ia menyerukan agar semua negara segera menata ulang persoalan fiskal mereka dengan menyusun rencana kredibel demi menjaga utang dan defisit tetap terkendali.

Peringatan ini muncul tak lama setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Kondisi ini bahkan mendorong Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, untuk mengambil langkah tak terduga dengan menggandakan ukuran pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang demi menahan laju kenaikan biaya pinjaman. IMF sendiri telah lama mendesak Washington untuk memangkas defisit fiskalnya yang terus membengkak, yang juga diyakini dapat membantu mengecilkan defisit neraca dagang dan transaksi berjalan AS.

Georgieva juga menekankan bahwa bank sentral di berbagai negara harus tetap "fokus penuh" pada mandat stabilitas harga di tengah bayang-bayang inflasi, meskipun mengakui bahwa kebijakan moneter ketat berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ia menyoroti pentingnya mengatasi ketimpangan ekonomi global yang kerap memicu ketegangan perdagangan. Secara tidak langsung, Georgieva kerap mendorong Tiongkok untuk mengubah model pertumbuhan ekonominya, dari yang semula sangat bergantung pada ekspor, menjadi lebih berorientasi pada konsumsi domestik.

"Ekonomi yang lebih seimbang berarti ekonomi global yang lebih kuat, dan itu baik untuk semua pihak," pungkas Georgieva, seraya mengakui bahwa tujuan ini akan semakin sulit dicapai di tengah dunia yang kian terfragmentasi. IMF berencana menyempurnakan model penilaian neraca eksternal dan memperdalam analisis terkait faktor-faktor pemicu ketimpangan global, termasuk interaksi antara tren makroekonomi, kebijakan dagang, dan kebijakan industri, yang akan dituangkan dalam serangkaian kajian mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar