Asia Waspada! IMF Ungkap Ancaman Baru Mengintai Ekonomi

Asia Waspada! IMF Ungkap Ancaman Baru Mengintai Ekonomi

Haluannews Ekonomi – Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan peringatan terkait potensi tantangan yang akan dihadapi negara-negara di Asia. Kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan utama, terutama jika dikombinasikan dengan penguatan dolar dan kenaikan suku bunga yang dapat memicu pengetatan kondisi keuangan.

COLLABMEDIANET

Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, mengungkapkan bahwa bank sentral di Asia memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter guna menopang pertumbuhan ekonomi. Hal ini dimungkinkan jika The Federal Reserve (The Fed) terus menurunkan suku bunga, yang berpotensi melemahkan dolar. Pelemahan dolar akan meringankan kekhawatiran terkait arus modal keluar.

Asia Waspada! IMF Ungkap Ancaman Baru Mengintai Ekonomi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Suku bunga yang rendah akan memberikan keuntungan bagi pemerintah dan perusahaan di Asia untuk mendapatkan pinjaman dengan biaya yang lebih murah. Dana tersebut dapat digunakan untuk mengatasi dampak negatif dari kenaikan tarif AS. Namun, Srinivasan mengingatkan bahwa kondisi keuangan yang menguntungkan ini tidak bersifat permanen.

"Jika suku bunga, khususnya suku bunga jangka panjang, mulai meningkat, dampaknya bisa signifikan bagi Asia. Beban pembayaran utang sebagai bagian dari pendapatan di kawasan ini cukup tinggi, dan ini menjadi masalah serius," tegas Srinivasan. Penguatan dolar juga menjadi perhatian, karena dapat memberikan tekanan tambahan pada negara-negara di Asia.

IMF dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Oktober memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia sebesar 4,5% pada tahun 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 4,6%, namun lebih tinggi 0,6% dibandingkan proyeksi pada bulan April. Peningkatan ekspor, yang didorong oleh pengiriman barang menjelang kenaikan tarif AS, menjadi faktor pendorong pertumbuhan.

Meskipun demikian, IMF memperingatkan bahwa risiko penurunan tetap ada, dan memproyeksikan pertumbuhan akan melambat menjadi 4,1% pada tahun 2026. IMF juga melihat adanya potensi pelonggaran moneter lebih lanjut di banyak negara untuk mencapai target inflasi dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Inflasi di Asia dinilai lebih terkendali dibandingkan wilayah lain di dunia, meskipun terjadi lonjakan permintaan pasca-pandemi dan kenaikan harga komoditas akibat perang Rusia-Ukraina. Srinivasan menekankan pentingnya independensi bank sentral dalam mencapai stabilitas harga dan menjaga kepercayaan publik.

"Penting bagi bank sentral untuk memiliki independensi agar dapat mencapai tujuan mereka, terutama stabilitas harga," ujarnya. Meskipun independen, bank sentral juga harus akuntabel kepada publik dan tidak dibebani dengan terlalu banyak mandat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar