Haluannews Ekonomi – Konglomerat global, Ray Dalio, yang juga merupakan Dewan Penasihat BPI Danantara, melontarkan peringatan keras terkait lonjakan utang Amerika Serikat (AS) yang kini telah menembus US$37,86 triliun per September 2025. Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi AS dalam tiga tahun mendatang.

Related Post
Dalio menyoroti bahwa peningkatan utang yang eksponensial sejak 2020, diperparah dengan kebijakan stimulus era pandemi dan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Hal ini membuat pemerintah AS harus membayar bunga utang yang semakin mahal, sementara defisit nasional terus membengkak, diperkirakan mencapai US$1,97 triliun tahun ini.

Kondisi ini, menurut Dalio, menempatkan rasio utang terhadap PDB Amerika dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ia menekankan bahwa AS telah membelanjakan uang melebihi kemampuannya, dan jika utang terus meningkat lebih cepat daripada PDB, pasar dapat kehilangan kepercayaan pada kemampuan AS untuk membayar.
Dalio bahkan membandingkan situasi AS dengan kerajaan-kerajaan yang runtuh di masa lalu, yang terlalu bergantung pada pinjaman. Ia memperingatkan tentang potensi spiral utang, di mana pemerintah terpaksa meminjam lebih banyak hanya untuk membayar bunga utang yang ada. Hal ini, menurutnya, dapat memicu inflasi dan melemahkan status dolar AS di pasar global.
Menanggapi situasi ini, Dalio menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi aset. Ia merekomendasikan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan mempertimbangkan investasi pada aset pendapatan tetap lainnya, seperti obligasi korporasi dan obligasi pemerintah dari negara-negara dengan kondisi keuangan yang lebih baik. Selain itu, ia juga menyarankan untuk berinvestasi pada emas dan komoditas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Terakhir, Dalio menekankan pentingnya likuiditas dan fleksibilitas dalam berinvestasi. Ia menyarankan untuk memanfaatkan rekening tabungan dengan imbal hasil tinggi atau sertifikat deposito (CD) jangka menengah sebagai tempat untuk menyimpan uang tunai dan mendapatkan pendapatan pasif tanpa harus terikat pada obligasi jangka panjang.
Sebagai informasi tambahan, Ray Dalio telah ditunjuk sebagai dewan penasihat BPI Danantara sejak 24 Maret 2025. Kiprah panjangnya di dunia keuangan dan investasi membuatnya menjadi salah satu tokoh yang sering diusung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar