haluannews.id – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam (ANTM) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang luar biasa pada paruh pertama tahun 2026. Raksasa tambang ini sukses membukukan laba bersih fantastis mencapai Rp6,91 triliun, melonjak tajam 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp5,14 triliun.

Related Post
Seiring dengan lonjakan laba, Antam juga menunjukkan peningkatan signifikan pada Earnings Before Interest Taxes Depreciation and Amortization (EBITDA). Pada semester pertama 2026, EBITDA perseroan mencapai Rp9,62 triliun, tumbuh 35% dari Rp7,11 triliun di semester I 2025.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengungkapkan bahwa pencapaian gemilang ini merupakan buah dari penguatan fundamental bisnis. Strategi perusahaan berfokus pada optimalisasi kinerja operasional, pengelolaan portofolio komoditas, serta pengembangan hilirisasi pada tiga komoditas utama yaitu emas nikel dan bauksit.
Pendapatan Antam yang mencapai Rp62,71 triliun menjadi pendorong utama laba. Ditambah lagi dengan efisiensi operasional dan disiplin ketat dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan. "Antam terus berkomitmen menjaga fondasi keuangan yang kokoh melalui pengelolaan biaya yang cermat optimalisasi kinerja operasional dan penguatan bisnis pada komoditas inti," tegas Arini dalam paparan publik virtual Kamis 10 September 2026.
Pada sektor emas Antam mencatat volume penjualan sekitar 18,1 ton di semester I 2026 dengan kontribusi pendapatan mencapai Rp50,39 triliun. Angka ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap performa perusahaan. Antam terus berupaya memperkuat rantai nilai bisnis emas mulai dari pasokan bahan baku peningkatan kapabilitas pengolahan hingga perluasan akses pasar. Selain itu Antam juga tengah mempersiapkan pembangunan fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik dengan proyeksi kapasitas 30 ton per tahun yang kini memasuki tahap prakonstruksi.
"Di saat yang sama Antam juga terus mengoptimalkan portofolio nikel dan bauksit untuk memperkuat diversifikasi bisnis Perseroan," tambah Arini.
Pada segmen nikel Antam membukukan produksi bijih nikel sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt) dan volume penjualan sekitar 6,77 juta wmt sepanjang semester I 2026. Seluruh penjualan bijih nikel tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Antam serius mengembangkan hilirisasi nikel guna meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di Tanah Air. Pengembangan rantai nilai ini mencakup pertambangan RKEF dan HPAL hingga material baterai dan sel baterai sebagai bagian integral dari ekosistem baterai kendaraan listrik.
"Pengembangan hilirisasi adalah bagian krusial dari strategi pertumbuhan jangka panjang Antam. Kami ingin memastikan sumber daya yang kami miliki dapat memberikan nilai tambah yang optimal melalui pengembangan rantai bisnis yang lebih terintegrasi dengan tetap mempertimbangkan aspek keekonomian proyek dan pengelolaan risiko," jelas Arini.
Untuk komoditas bauksit Antam juga memperkuat integrasi rantai nilai dari pertambangan hingga produk alumina. Antam mengoperasikan tambang bauksit di Tayan serta fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina dengan kapasitas terpasang 300 ribu ton per tahun. Selain itu Antam juga memiliki kepemilikan 40% pada fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah berkapasitas 1 juta ton per tahun.
Hingga semester I 2026 total aset perseroan tercatat sebesar Rp61,27 triliun total ekuitas Rp38,53 triliun serta kas dan setara kas sebesar Rp9,23 triliun. Posisi keuangan yang solid ini menjadi fondasi kuat bagi Antam dalam menjalankan agenda pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian disiplin investasi dan pengelolaan risiko.
"Kami akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis disiplin investasi dan pengelolaan risiko. Setiap agenda pengembangan akan kami jalankan secara prudent agar memberikan nilai tambah yang optimal sekaligus menjaga kesehatan keuangan Perseroan dalam jangka panjang," pungkas Arini.










Tinggalkan komentar