Ancaman Downgrade MSCI dan Dampak ke Rupiah

Ancaman Downgrade MSCI dan Dampak ke Rupiah

haluannews.id – Dunia keuangan Indonesia kini tengah dihadapkan pada sebuah tantangan besar terkait status pasar modal kita di mata internasional. Isu mengenai potensi penurunan kelas pasar saham Indonesia oleh MSCI dari kategori emerging market menjadi standalone market pada kuartal kedua tahun 2027, memicu kekhawatiran akan terjadinya arus modal keluar atau outflow yang masif.

COLLABMEDIANET

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan peringatan serius mengenai potensi eksodus dana asing dari bursa saham tanah air. Jika skenario penurunan kelas ini benar-benar terjadi, diperkirakan investor asing akan melakukan aksi jual besar-besaran. Nilai aliran modal yang keluar diprediksi akan sangat fantastis, yakni berkisar antara US$2 miliar hingga US$6 miliar. Jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS, maka jumlahnya mencapai Rp36 triliun hingga Rp108 triliun.

Ancaman Downgrade MSCI dan Dampak ke Rupiah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Irman menjelaskan bahwa tekanan ini tidak hanya datang dari satu sisi. Arus keluar tersebut akan melibatkan dua jenis investor utama, yakni passive fund yang menggunakan indeks MSCI sebagai standar utama pengambilan keputusan, serta active fund atau investor mandiri yang tidak terikat secara ketat pada indeks tersebut.

"Kami melihat potensi keluarnya modal dari pasar saham ini bisa mencapai angka US$2 sampai US$6 miliar. Ini mencakup dana dari pengelola dana aktif maupun pasif," ungkap Irman dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Ia juga menambahkan bahwa dampak dari penurunan kelas ini bersifat lagging, yang berarti efek nyata dari aksi jual tersebut baru akan terasa secara signifikan menjelang kuartal kedua tahun 2027.

Meski kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih sangat kokoh, sentimen negatif dari isu MSCI ini diprediksi akan membuat investor asing bersikap lebih berhati-hati. Alih-alih menambah porsi kepemilikan saham, investor cenderung menerapkan strategi wait and see. Mereka akan menunggu hingga harga saham di Indonesia mencapai titik terendah sebelum memutuskan untuk kembali masuk ke pasar.

Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, Irman memberikan catatan menenangkan terkait stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, meskipun arus modal keluar dari pasar saham dapat terjadi, hal tersebut bukan merupakan faktor fundamental yang akan merusak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara drastis.

Berdasarkan studi yang dilakukan, sensitivitas rupiah terhadap keluarnya modal di pasar saham tergolong kecil. Setiap keluarnya modal asing sebesar US$100 juta di pasar saham hanya akan menyebabkan depresiasi rupiah sekitar Rp11 hingga Rp12 saja. Hal ini dikarenakan investor seringkali melakukan rotasi aset terlebih dahulu. Sebelum benar-benar membawa uang mereka keluar dari Indonesia, investor biasanya akan memindahkan dana dari saham ke instrumen keuangan lain yang lebih rendah risiko di dalam negeri.

"Pasar saham bisa melakukan rotasi aset terlebih dahulu sebelum benar-benar keluar dari Indonesia. Oleh karena itu, dampak langsung dari outflow pasar saham terhadap pelemahan rupiah seharusnya tidak terlalu besar," tutup Irman.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar