haluannews.id – Pergerakan mengejutkan datang dari tokoh politik senior Singapura, George Yeo. Mantan Menteri Luar Negeri negara tersebut dilaporkan melakukan aksi beli besar-besaran terhadap saham raksasa agribisnis, Wilmar International. Langkah strategis ini dilakukan di tengah situasi perusahaan yang tengah diterpa isu lingkungan dan tekanan pasar yang cukup signifikan.

Related Post
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari dokumen Bursa Efek Singapura, George Yeo telah memborong sebanyak 100.000 lembar saham Wilmar International. Transaksi yang dilakukan di pasar terbuka pada awal November ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp4,19 miliar atau setara dengan S$297.000. Dengan tambahan kepemilikan ini, total saham yang dikuasai oleh Yeo di perusahaan tersebut kini melonjak hingga melampaui angka 1 juta lembar.

Menariknya, aksi borong saham ini dilakukan saat performa harga saham Wilmar sedang mengalami tren penurunan. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, nilai saham perusahaan agribisnis ini dilaporkan merosot lebih dari 14 persen. Penurunan ini bukan tanpa alasan; pasar tengah bereaksi terhadap pengawasan ketat otoritas Singapura terkait dugaan keterlibatan sejumlah perusahaan dalam masalah kebakaran lahan di Indonesia yang memicu kabut asap lintas batas.
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) diketahui telah memberikan perhatian khusus kepada 10 perusahaan besar, termasuk Wilmar. Mereka diminta untuk memberikan klarifikasi mengenai hubungan korporasi, kepemilikan konsesi lahan di Indonesia, serta langkah nyata dalam pencegahan kebakaran hutan. Bahkan, CEO Wilmar, Kuok Khoon Hong, sempat dipanggil untuk menghadiri pertemuan tertutup dengan pemerintah Singapura pada akhir Oktober lalu.
Menanggapi tekanan tersebut, pihak Wilmar menyatakan komitmennya untuk bersikap kooperatif. Perusahaan telah menunjuk Control Risks Group untuk melakukan penilaian independen guna memastikan apakah ada keterkaitan antara operasional mereka dengan polusi kabut asap yang melanda Singapura dan Malaysia. Wilmar juga menegaskan telah menyerahkan dokumen tahap pertama kepada NEA sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas.
Di sisi lain, perusahaan sempat mengungkapkan fakta bahwa mereka telah menjual produk seperti pupuk dan bahan bakar diesel kepada enam dari sepuluh perusahaan yang sedang diselidiki oleh NEA. Transaksi tersebut tercatat menyumbang pendapatan sekitar US$22,5 juta atau setara Rp407,25 miliar pada tahun fiskal 2025.
George Yeo sendiri bukanlah sosok sembarangan di dunia korporasi maupun politik. Ia resmi bergabung dengan jajaran direksi Wilmar sebagai direktur independen sejak April 2024. Pengalaman panjangnya sebagai Menteri Luar Negeri Singapura hingga 2011 serta rekam jejak eksekutif di grup Kerry Group memberikan sinyal kuat bahwa langkah pembelian saham ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meskipun saat ini sedang menghadapi badai regulasi dan isu lingkungan.










Tinggalkan komentar