Ancaman Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

Ancaman Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

haluannews.id – Ekonomi Indonesia kini tengah menghadapi tantangan serius terkait stabilitas nilai tukar mata uang domestik. Prediksi terbaru menunjukkan adanya potensi pelebaran defisit transaksi berjalan yang dapat menekan kekuatan rupiah di masa mendatang. Kondisi ini dipicu oleh tingginya ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri guna memenuhi kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat.

COLLABMEDIANET

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan peringatan mengenai proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia. Ia memperkirakan angka defisit tersebut akan menyentuh kisaran 1,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026. Tidak berhenti di situ, tren pelebaran ini diprediksi akan berlanjut hingga mencapai 1,6 persen pada tahun 2027. Jika dibandingkan dengan proyeksi defisit yang hanya sebesar 0,1 persen pada tahun 2025, angka ini menunjukkan penurunan performa neraca pembayaran yang cukup signifikan.

Ancaman Defisit Transaksi Berjalan Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Irman, pelebaran defisit ini menjadi sinyal bahwa Indonesia masih sangat membutuhkan suntikan dana dari luar negeri untuk menutupi kebutuhan valuta asing. Fenomena ini secara langsung dapat menjadi faktor utama yang melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Salah satu pemicu utama dari kondisi ini adalah melonjaknya biaya impor energi yang berisiko memperburuk neraca perdagangan di sektor minyak dan gas.

Ketidakpastian ekonomi global turut memperkeruh suasana. Kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor kejutan yang mengubah peta ekonomi dunia tahun ini. Ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, telah mendorong harga minyak mentah melonjak tajam. Meski sempat mengalami koreksi, harga minyak dunia cenderung bertahan di level yang cukup tinggi, yakni di atas angka US$100 per barel.

Kondisi harga energi yang "lengket" di level tinggi ini juga memicu kekhawatiran akan kembalinya risiko inflasi global. Dampaknya, bank sentral di berbagai belahan dunia kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer.

Kebijakan suku bunga AS yang tinggi ini menciptakan efek domino bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, investor global cenderung mengalihkan modal mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman di negara maju (advanced economy). Fenomena ini memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan obligasi domestik.

"Jika investor merasa ada risiko, mereka akan memilih aset keuangan yang relatif lebih aman. Jika mereka mencari negara yang aman, negara mana yang akan dituju? Ya, negara-negara maju," ujar Irman dalam sebuah diskusi di Sabang, Aceh.

Pergerakan modal ke negara maju ini akan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sekaligus mengurangi pasokan valuta asing di dalam negeri. Tekanan ganda ini pada akhirnya akan menekan neraca transaksi berjalan, mengingat kebutuhan untuk membayar impor dan aktivitas ekonomi nasional tetap memerlukan dukungan dolar yang kuat. Melansir laporan dari haluannews.id, situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar