Utang RI Aman dari Terpaan Dolar

Utang RI Aman dari Terpaan Dolar

haluannews.id – Pemerintah Indonesia memberikan jaminan tegas terkait ketahanan utang negara di tengah dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun kondisi pasar keuangan global sering kali mengalami fluktuasi, pemerintah memastikan bahwa total utang yang diterbitkan sepanjang tahun ini tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali.

COLLABMEDIANET

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan bahwa struktur utang pemerintah saat ini telah dirancang dengan sangat hati-hati untuk memitigasi risiko mata uang. Berdasarkan data terbaru, komposisi utang pemerintah hingga semester I-2026 menunjukkan dominasi mata uang domestik yang sangat kuat.

Utang RI Aman dari Terpaan Dolar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Dari total utang pemerintah yang mencapai Rp 10.293,69 triliun atau setara dengan 41,26% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sebanyak 70,2% merupakan utang dalam denominasi rupiah," ujar Suminto dalam keterangannya pada Jumat (10/10/2026).

Dengan porsi utang dalam rupiah yang mencapai angka 70,2%, pemerintah merasa optimis bahwa risiko akibat pelemahan nilai tukar dapat diminimalisir secara efektif. Sisanya, yakni sebesar 29,8%, merupakan utang dalam mata uang asing (valas). Strategi ini diambil untuk memastikan bahwa beban pembayaran utang negara tidak akan melonjak drastis ketika nilai tukar dolar AS mengalami penguatan terhadap rupiah.

Selain strategi komposisi mata uang, pemerintah juga memiliki mekanisme perlindungan tambahan melalui sumber pendapatan negara. Suminto menjelaskan bahwa untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo dalam mata uang asing, pemerintah dapat memanfaatkan pendapatan negara yang juga diterima dalam bentuk dolar AS. Pendapatan tersebut bersumber dari sektor pajak serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari transaksi luar negeri.

Jika menilik lebih dalam pada rincian utang valas, pemerintah secara konsisten menjaga profil risiko portofolio utang. Pada tahun 2025, mayoritas utang dalam mata uang asing memang didominasi oleh dolar AS dengan porsi sekitar 19,81%. Sementara itu, mata uang lainnya tersebar secara proporsional, seperti Yen Jepang sebesar 2,71%, Euro sebesar 5,94%, dan sisanya sebesar 0,5% untuk mata uang lainnya.

Kondisi pasar saat ini menunjukkan tren yang cukup positif bagi mata uang Garuda. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah tercatat sempat menguat terhadap dolar AS, meskipun masih bergerak di kisaran level Rp17.800 per dolar AS. Rupiah dibuka pada level Rp17.855/US$, yang berarti mengalami penguatan sebesar 0,20% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau mengalami pelemahan tipis sebesar 0,15% ke posisi 101,988. Dengan kombinasi penguatan rupiah dan manajemen utang yang berbasis mata uang domestik, pemerintah optimistis stabilitas fiskal nasional akan tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar