Haluannews Ekonomi – Penerapan tarif resiprokal 19% oleh pemerintah AS terhadap produk Indonesia menjadi pukulan bagi sektor ekspor, khususnya industri pengolahan perikanan seperti udang. Namun, di balik tantangan ini, tersimpan peluang emas bagi para pelaku usaha di Tanah Air. Hal ini diungkapkan oleh Direktur PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), Brandon Limbono, dalam wawancara di program Squawk Box, Haluannews.id (Senin, 11/08/2025).

Related Post
UDNG, salah satu perusahaan budidaya udang vannamei, merasakan dampak langsung dari kenaikan harga akibat tarif impor tersebut. Namun, Limbono melihatnya sebagai kesempatan. Pasalnya, India, eksportir udang terbesar ke AS, justru dikenai tarif yang jauh lebih tinggi, yakni 50%. "Dengan tarif 19%, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan India," tegas Limbono.

Strategi UDNG untuk menghadapi situasi ini adalah dengan fokus meningkatkan kualitas produk. Hal ini dinilai krusial untuk mempertahankan daya saing di pasar AS yang kompetitif. Selain itu, perusahaan juga tengah mengeksplorasi pasar baru di Uni Eropa, Timur Tengah, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS.
Limbono optimistis bahwa industri udang Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pangsa pasar global. Dengan kualitas produk yang terjaga dan strategi diversifikasi pasar yang tepat, industri udang Indonesia diyakini mampu bersaing dengan negara-negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand. Tantangan tarif impor AS, menurutnya, justru menjadi pendorong bagi inovasi dan peningkatan efisiensi di dalam negeri.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar