haluannews.id – Pasar modal Indonesia bergejolak pada Rabu 29 Juli 2026 Indeks Harga Saham Gabungan IHSG sempat mengikis sebagian pelemahannya namun tetap tak berdaya ditutup di area negatif pada akhir sesi pertama perdagangan. Kekhawatiran global dan domestik menjadi pemicu utama di balik tekanan jual yang mendominasi.

Related Post
Pada penutupan sesi I IHSG tercatat merosot 37 poin atau setara 060 persen ke level 609359. Sepanjang paruh pertama hari itu indeks sempat menyentuh puncak 617441 sebelum terperosok ke titik terendah 602932. Total nilai transaksi di seluruh bursa mencapai angka fantastis Rp1684 triliun melibatkan 2595 miliar saham dalam 124 juta kali transaksi. Dari ratusan saham yang diperdagangkan hanya 184 yang berhasil menguat sementara 489 saham ambruk dan 292 lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat Rp10667 triliun.

Koreksi mendalam IHSG tak lepas dari kinerja mayoritas sektor yang memerah. Sektor properti menjadi yang paling terpukul anjlok 427 persen disusul utilitas yang melemah 321 persen. Sektor konsumer non-primer juga tertekan 123 persen industri turun 087 persen dan teknologi terkoreksi 065 persen. Bahkan sektor energi konsumer primer kesehatan keuangan dan bahan baku turut mencatatkan penurunan meski dalam skala lebih kecil.
Elandry Pratama Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah mengungkapkan bahwa kombinasi sentimen eksternal dan domestik menjadi biang keladi pelemahan ini. "Sentimen pasar global masih diselimuti kehati-hatian menjelang agenda penting sehingga mengurangi selera risiko terhadap aset-aset berisiko" jelasnya kepada haluannews.id. Dari dalam negeri pasar juga tengah mencerna laporan kinerja Semester I-2026 yang hasilnya bervariasi memicu aksi ambil untung pada saham-saham yang sebelumnya melesat.
Menurut Elandry tekanan jual masih lebih kuat dibanding minat beli meskipun volume transaksi belum melonjak signifikan. Ini mengindikasikan investor sedang menyesuaikan portofolio sambil menanti katalis baru. "Selama tidak ada sentimen negatif baru pelemahan ini kami anggap sebagai fase konsolidasi wajar bukan perubahan fundamental pasar secara menyeluruh" imbuhnya.
Senada Herditya Wicaksana Head of Research Retail MNC Sekuritas menyebut pergerakan IHSG sejalan dengan proyeksi teknikal. Ia menyoroti arus keluar dana investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp436 triliun dalam sepekan terakhir. Tiga faktor utama membebani pasar kata Herditya. Pertama investor menanti hasil pertemuan FOMC The Fed pada 29 Juli waktu setempat yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 350-375 persen. Kedua kenaikan harga minyak mentah Brent dan WTI kembali ke level 80 dolar AS per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketiga nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh level 18000-an per dolar AS juga menjadi perhatian serius pelaku pasar.
Secara teknikal IHSG masih bergerak di bawah Weighted Moving Average WMA 20 yang berada di kisaran 6146. Indikator MACD juga menunjukkan momentum penguatan yang mulai meredup. Untuk jangka pendek Elandry memproyeksikan IHSG akan konsolidatif dengan level support di 6050-6080. Jika level ini jebol indeks berpotensi menguji 6000. Sementara itu resistance berada di 6150-6200 dan peluang rebound akan terbuka jika disertai masuknya aliran dana asing. Meskipun volatilitas jangka pendek meningkat Herditya masih mempertahankan proyeksi base case IHSG di 7000 dan bear case di 6100 menunjukkan prospek jangka menengah pasar saham Indonesia masih relatif terjaga.










Tinggalkan komentar