Haluannews Ekonomi – Keputusan Bank Indonesia untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% telah memicu reaksi signifikan dari kalangan pengusaha. Langkah moneter ini, yang bertujuan meredam gejolak nilai tukar rupiah, diprediksi akan membawa konsekuensi langsung berupa kenaikan bunga kredit perbankan, yang pada gilirannya menekan biaya operasional perusahaan.

Related Post
Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Sutrisno Iwantono, mengakui bahwa kebijakan ini merupakan pilihan sulit yang tak terhindarkan di tengah tekanan eksternal terhadap mata uang Garuda. Namun, ia juga menyoroti tantangan ganda yang dihadapi pelaku usaha: biaya pembiayaan yang kian mahal di saat daya beli masyarakat masih cenderung lesu.

"Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, naik 50 basis poin. Ini memang suasana yang tidak mengenakkan karena pilihannya serba sulit," ujar Sutrisno kepada Haluannews.id, Minggu (31/5/2026). Ia menambahkan, "Dengan kenaikan suku bunga ini tentu akan diikuti oleh kenaikan suku bunga di bank-bank pelaksana dan dampaknya signifikan bagi dunia usaha."
Menurut Sutrisno, perusahaan yang memiliki ketergantungan pada fasilitas kredit perbankan akan merasakan tekanan tambahan pada arus kas mereka. Kondisi ini berpotensi memaksa manajemen untuk melakukan penyesuaian strategi bisnis, mulai dari efisiensi operasional yang lebih ketat hingga penundaan rencana ekspansi yang telah disusun.
Di sisi lain, kebijakan ini juga dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi makro. "Jika tidak dilakukan penyesuaian suku bunga, ini juga mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi ekonomi kita karena nilai rupiah yang tidak terkendali akan memukul ekonomi kita. Inflasi menjadi tinggi, kemudian barang-barang impor menjadi mahal sementara banyak pabrikan kita memerlukan bahan baku dari impor," jelasnya.
Secara sektoral, Sutrisno mengidentifikasi beberapa industri yang paling rentan terhadap imbas kenaikan suku bunga. Sektor-sektor seperti properti, otomotif, konstruksi, dan industri padat karya, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di segmen ritel, diperkirakan akan menanggung beban terberat. Hal ini karena tingginya ketergantungan mereka pada pembiayaan eksternal.
Namun, ada pula sisi lain. Industri yang mayoritas bahan bakunya berasal dari impor justru bisa sedikit bernapas lega jika stabilitas nilai tukar rupiah berhasil dipertahankan. Kestabilan kurs menjadi krusial untuk menjamin kelangsungan proses produksi mereka.
Tekanan ini diperkirakan akan semakin memuncak apabila rezim suku bunga tinggi bertahan dalam periode yang panjang. Dalam jangka pendek, perusahaan mungkin masih bisa bertahan dengan strategi efisiensi dan pengelolaan arus kas yang cermat. Namun, jika kondisi ini berlanjut lebih dari tiga kuartal, pelaku usaha cenderung akan menahan diri, memasuki fase ‘wait and see’, dan menunda investasi atau ekspansi baru. "Ini tentu punya dampak bagi pertumbuhan ekonomi kita," pungkas Sutrisno.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar