Strategi Adhi Karya Perkuat Modal

Strategi Adhi Karya Perkuat Modal

haluannews.id – Raksasa konstruksi milik negara, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), tengah melakukan langkah besar dalam merombak struktur keuangan perusahaan. Menjelang rencana merger strategis dengan PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), emiten BUMN karya ini memutuskan untuk melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ). Langkah divestasi ini diproyeksikan akan menghasilkan dana segar mencapai Rp1,76 triliun.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan informasi resmi yang dirilis pada 7 Oktober 2026, Adhi Karya akan menjual 1.714.808 lembar saham atau setara dengan 47,18% dari total kepemilikan di JMJ kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI. Kesepakatan ini telah memasuki tahap penandatanganan perjanjian jual beli bersyarat pada akhir September lalu. Meski demikian, proses pengalihan kepemilikan ini belum sepenuhnya tuntas karena masih menunggu restu dari para pemegang saham melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Strategi Adhi Karya Perkuat Modal
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Manajemen Adhi Karya menegaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar pelepasan aset biasa, melainkan bagian dari strategi asset recycling. Melalui optimalisasi investasi ini, perusahaan berupaya mendapatkan nilai tambah yang signifikan untuk memperkuat neraca keuangan. Langkah ini juga selaras dengan instruksi strategis dari PT Danantara Asset Management (DAM) yang mendorong BUMN sektor konstruksi untuk lebih fokus pada inti bisnis mereka dan menjaga kesehatan finansial.

Dana jumbo hasil penjualan saham tersebut rencananya akan dialokasikan untuk beberapa kebutuhan krusial. Prioritas utama adalah untuk melunasi utang berbunga guna mengurangi beban finansial perusahaan serta memperkuat struktur permodalan. Selain itu, dana tersebut akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung operasional perusahaan serta membiayai kebutuhan usaha lainnya sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan.

Keputusan melepas saham JMJ juga didasari oleh pertimbangan risiko keuangan. Berdasarkan kajian internal, JMJ diprediksi masih akan menghadapi fase kerugian di tahap awal pengoperasian jalan tol. Hal ini disebabkan oleh volume lalu lintas yang belum optimal serta beban bunga pembiayaan yang cukup tinggi. Dengan keluar dari kepemilikan JMJ, Adhi Karya berharap dapat memitigasi potensi kerugian yang dapat menggerus laba bersih perseroan di masa depan.

Sebagai informasi, JMJ merupakan pemegang konsesi Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo. Saat ini, ruas Kartasura-Klaten telah beroperasi, sementara ruas Klaten-Prambanan menyusul menyusul beroperasi pada pertengahan 2025. Jika transaksi ini rampung, posisi kepemilikan di JMJ akan berubah, di mana SMI akan mengambil alih porsi saham milik Adhi Karya, sementara PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) tetap memegang kendali mayoritas.

Menariknya, nilai transaksi yang disepakati sebesar Rp1,765 triliun ini tercatat lebih tinggi sekitar 1,75% dibandingkan nilai pasar yang dinilai oleh lembaga independen. Adhi Karya dijadwalkan akan menggelar RUPSLB pada 13 November 2026 mendatang untuk mendapatkan persetujuan resmi terkait langkah strategis ini, sekaligus membahas penyesuaian penggunaan sisa dana penawaran umum terbatas (rights issue) sebelumnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar