haluannews.id – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) siap membuat gebrakan besar di sektor kesehatan nasional. Perusahaan pengelola rumah sakit terkemuka ini berencana mengakuisisi seluruh saham 14 entitas perusahaan yang memiliki aset rumah sakit. Entitas-entitas tersebut terafiliasi dengan First Real Estate Investment Trust (First REIT), dengan nilai transaksi yang diproyeksikan mencapai Rp 6,9 triliun.

Related Post
First REIT sendiri dikenal sebagai sebuah perwalian investasi real estat yang fokus pada kepemilikan berbagai fasilitas kesehatan dan properti pendukungnya di Asia maupun di luar benua tersebut. Di Indonesia, First REIT menjalankan operasionalnya melalui anak perusahaan, sementara Siloam selama ini bertindak sebagai operator dari sejumlah properti milik First REIT.

Langkah strategis ini, seperti diungkapkan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), bertujuan agar Siloam dapat menyatukan operasional layanan kesehatan dengan fasilitas yang sudah ada. Integrasi ini diharapkan akan membawa dampak positif pada pengelolaan, pemeliharaan, serta perencanaan strategis jangka panjang perusahaan.
Manajemen Siloam menyatakan, "Kepemilikan langsung akan memberikan Perseroan kendali penuh untuk mengoptimalkan investasi sesuai kebutuhan medis dan komersial. Sebelumnya, hal ini terbatas oleh ketentuan sewa dalam melakukan pengembangan dan renovasi." Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (22/9/2026), menggarisbawahi pentingnya otonomi dalam pengembangan bisnis.
Proses pengambilalihan ini akan dilaksanakan dalam dua fase. Fase pertama meliputi akuisisi delapan perusahaan target berdasarkan perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) yang ditandatangani pada 1 April 2026. Sementara itu, fase kedua akan mencakup enam perusahaan target lainnya, yang akan diakuisisi jika opsi jual berdasarkan perjanjian opsi jual (POA) tertanggal 1 April 2026 dieksekusi oleh pemegang opsi.
Pada fase pertama, Siloam akan mengambil alih 100% saham dari delapan perusahaan. Pertama, PT Sriwijaya Mega Abadi (SMA) dari Sriwijaya Investment I Pte. Ltd. dan Sriwijaya Investment II Pte. Ltd., pemilik Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang. Kedua, PT Eka Dasa Parinama (EDP) dari Finura Investments Pte. Ltd. dan Glamis Investments Pte. Ltd., yang mengelola Siloam Hospitals Purwakarta.
Selanjutnya, akuisisi PT Sentra Dinamika Perkasa (SDP) dari GOT Pte. Ltd. dan Lovage International Pte. Ltd., pemilik Siloam Hospitals Lippo Village. Keempat, PT Graha Indah Pratama (GIP) dari Henley Investments Pte. Ltd. dan Primerich Investments Pte. Ltd., yang memiliki Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
Manajemen juga menjelaskan bahwa pada fase pertama, Siloam akan mengakuisisi PT Dasa Graha Jaya (DGJ) dari Globalink Investments Pte. Ltd. dan Fortuna Capital Pte. Ltd., pemilik Siloam Hospitals Denpasar. Selain itu, PT Nusa Bahana Niaga (NBN) Divisi Rumah Sakit dari SHKP Investment I Pte. Ltd., yang memiliki Siloam Hospitals Kupang. Akuisisi berikutnya adalah PT Buton Bangun Cipta (BBC) Divisi Rumah Sakit dari SHBulton Investment I Pte. Ltd., pemilik Siloam Hospitals Baubau. Terakhir, PT Menara Abadi Megah (MAM) Divisi Rumah Sakit dari Rhuddlan Investment Pte. Ltd., yang mengelola Siloam Hospitals Manado.
Untuk fase kedua, enam perusahaan akan diakuisisi jika pemegang opsi menjalankan hak jualnya. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain PT Prima Laguan Bajo (PLB) dengan aset Siloam Hospitals Labuan Bajo, PT Perisai Dunia Sejahtera (PDS) yang memiliki Siloam Hospitals TB Simatupang, dan PT Bayutama Sukses (BS) dengan aset Siloam Hospitals Makassar. Kemudian, PT Primatama Cemerlang (PC) yang mengelola Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre, serta PT Graha Pilar Sejahtera (GPS) dengan aset Siloam Hospitals Lippo Cikarang, dan PT Yogya Central Terpadu (YCT) Divisi Rumah Sakit yang memiliki Siloam Hospitals Yogyakarta.
Estimasi nilai transaksi untuk fase pertama mencapai Rp 4,07 triliun, sementara nilai transaksi fase kedua diperkirakan sebesar Rp 2,8 triliun.
Manajemen berharap transaksi ini akan mendongkrak arus kas dan laba bersih dalam jangka panjang, serta memperkuat integrasi layanan kesehatan. Namun, di sisi lain, mereka mengakui adanya potensi penurunan arus kas dan laba bersih dalam jangka pendek akibat lonjakan beban bunga pinjaman.










Tinggalkan komentar