Rupiah Terpuruk Suku Bunga BI Terancam Naik

Rupiah Terpuruk Suku Bunga BI Terancam Naik

haluannews.id – Kondisi ekonomi nasional tengah berada dalam sorotan tajam menyusul tekanan hebat yang dialami mata uang rupiah terhadap dolar AS. Pelemahan nilai tukar yang kian dalam memicu spekulasi kuat di kalangan pengamat ekonomi mengenai langkah berani yang mungkin diambil oleh Bank Indonesia (BI). Muncul kekhawatiran bahwa otoritas moneter tersebut terpaksa harus menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate guna membendung arus pelemahan rupiah yang semakin tidak terkendali.

COLLABMEDIANET

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memberikan pandangan bahwa peluang kenaikan BI Rate di sisa tahun 2026 kini semakin terbuka lebar. Bahkan, ia melakukan revisi terhadap proyeksi suku bunga acuan tersebut. Menurut analisisnya, BI Rate berpotensi menyentuh angka 6 persen pada akhir tahun 2026. Langkah ini diprediksi sebagai respons terhadap dinamika kebijakan moneter global, terutama setelah adanya pergerakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Rupiah Terpuruk Suku Bunga BI Terancam Naik
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Josua menjelaskan bahwa meskipun Bank Indonesia tidak wajib mengikuti setiap langkah kebijakan The Fed secara mentah-mentah, namun BI tidak bisa menutup mata terhadap dampak sistemik yang ditimbulkan. Faktor-faktor seperti selisih suku bunga antarnegara, stabilitas arus modal keluar, serta potensi lonjakan harga barang impor akibat pelemahan kurs menjadi pertimbangan krusial. Jika rupiah terus merosot, maka kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi langkah yang masuk akal untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Namun, kenaikan suku bunga bukanlah tanpa risiko. Josua menambahkan bahwa jika tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara dan inflasi masih dalam batas aman, BI sebenarnya masih memiliki ruang untuk bersikap lebih tenang. Intervensi valuta asing yang efektif dapat menjadi bantalan agar BI tidak perlu terburu-buru menaikkan bunga. Akan tetapi, skenario terburuk seperti harga minyak dunia yang tetap tinggi, arus modal asing yang terus keluar, serta inflasi yang mulai merangkak naik akan memaksa BI untuk mengambil tindakan pengetatan moneter.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Center of Macroeconomics and Finance dari INDEF, M. Rizal Taufikurahman, turut memperkuat analisis mengenai risiko ini. Menurut Rizal, peluang kenaikan suku bunga pada periode Oktober hingga November akan meningkat drastis jika depresiasi rupiah terjadi secara akseleratif. Kondisi ini akan semakin diperparah jika ekspektasi inflasi di masyarakat mulai terganggu akibat ketidakpastian nilai tukar.

Rizal menekstrankan bahwa Bank Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, menaikkan suku bunga dapat menekan pertumbuhan ekonomi karena biaya kredit yang menjadi lebih mahal bagi masyarakat dan pelaku usaha. Di sisi lain, membiarkan rupiah melemah dalam jangka panjang justru akan meningkatkan biaya produksi industri dan menggerus daya beli masyarakat secara luas. Keputusan akhir BI akan sangat bergantung pada seberapa efektif upaya stabilisasi yang dilakukan saat ini.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar