haluannews.id – Mata uang Garuda mengawali hari terakhir perdagangan pekan ini dengan langkah yang kurang menggembirakan. Rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat 25 September 2026 pagi.

Related Post
Menurut pantauan Refinitiv nilai tukar rupiah langsung kehilangan 0,08 persen kekuatannya dan berada di level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat saat pembukaan pasar. Angka ini menandai kembalinya dolar AS ke level psikologis yang sempat tersentuh sehari sebelumnya.

Tren pelemahan ini bukan hal baru sebab sehari sebelumnya rupiah juga sudah menunjukkan sinyal serupa. Pada Kamis 24 September 2026 rupiah ditutup melemah 0,51 persen di posisi Rp17.885 per dolar AS. Meskipun sempat menyentuh angka Rp17.900 per dolar AS rupiah berhasil sedikit memperbaiki posisinya menjelang penutupan perdagangan.
Di sisi lain indeks dolar AS DXY yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,02 persen ke level 101,265 pada pukul 09.00 WIB. Namun koreksi ini tidak lantas membuat dolar AS kehilangan dominasinya setelah sebelumnya menguat 0,19 persen pada penutupan Kamis.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkasa nya dolar AS di pasar global. Tingginya minat terhadap aset berdenominasi dolar AS secara otomatis mempersempit ruang gerak penguatan mata uang lain termasuk rupiah.
Dolar AS sebelumnya telah mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury serta ekspektasi yang semakin kuat akan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve The Fed. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi sejak Juni 2004 sementara yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai posisi tertinggi dalam hampir dua dekade.
Data ekonomi Amerika Serikat turut memperkuat dugaan pengetatan kebijakan moneter. Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran pekan lalu turun menjadi 197.000 lebih rendah dari perkiraan pasar 201.000. Angka ini mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih sangat tangguh.
Kekhawatiran inflasi juga kembali membayangi setelah harga minyak melonjak hampir 4 persen. Kenaikan ini terjadi pasca serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi yang kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Beberapa pejabat The Fed juga masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan jika inflasi tidak kunjung mereda. Presiden The Fed New York John Williams dan Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson mengisyaratkan pengetatan tambahan mungkin masih diperlukan. Menurut CME FedWatch probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober telah mencapai 68,6 persen meningkat signifikan dari 55,4 persen pada pekan sebelumnya.
Meskipun demikian Bank Indonesia BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan resmi menegaskan BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Langkah ini bertujuan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus meningkatkan efektivitas stabilisasi nilai tukar. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus diperkuat guna mendorong aliran masuk modal asing dan mengelola kebutuhan valuta asing di dalam negeri.










Tinggalkan komentar