Rupiah Menggila Dolar AS Tak Berdaya

Rupiah Menggila Dolar AS Tak Berdaya

haluannews.id – Pasar keuangan global pagi ini, Rabu (15/7/2026), diwarnai kabar gembira bagi mata uang Garuda. Rupiah menunjukkan performa impresif, melesat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS), didorong oleh pelemahan signifikan pada indeks dolar AS.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, nilai tukar rupiah berhasil mengukir apresiasi sebesar 0,17%, mengukuhkan posisinya di level Rp18.050 per dolar AS. Kinerja positif ini bukan yang pertama, melanjutkan tren penguatan yang terjadi pada penutupan perdagangan sebelumnya, Selasa (14/7/2026), di mana rupiah juga terapresiasi 0,11% ke angka Rp18.080 per dolar AS.

Rupiah Menggila Dolar AS Tak Berdaya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau berada dalam tekanan kuat. Pada pukul 09.00 WIB, DXY merosot 0,12% ke level 100,797, melanjutkan koreksi yang terjadi sehari sebelumnya ketika indeks tersebut jatuh 0,31%.

Pergerakan rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global yang sedang menghadapi badai pelemahan. Pemicu utamanya adalah pengumuman data inflasi tahunan AS yang menunjukkan penurunan drastis menjadi 3,5% pada Juni 2026. Angka ini menandai kontraksi pertama dalam empat bulan terakhir, jauh di bawah posisi Mei 2026 yang mencapai 4,2%, dan juga melampaui ekspektasi konsensus sebesar 3,8%.

Secara lebih detail, meskipun indeks energi masih mencatatkan kenaikan tahunan 15,7% dan harga makanan naik 3,0%, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS secara bulanan justru mengalami deflasi 0,4%. Realisasi ini lebih dalam dari perkiraan deflasi 0,1% dan menjadi deflasi bulanan pertama sejak Mei 2020, sekaligus kontraksi bulanan terbesar sejak April 2020, di awal pandemi Covid-19.

Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan ini sontak meredakan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini anjlok menjadi 16% dari sebelumnya 42% pada Senin. Meskipun demikian, peluang kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini masih cukup besar, yakni 80%, meski juga menurun dari 89% pada Senin.

Melemahnya dolar AS di pasar global akibat meredanya kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed pada akhirnya membuka ruang lebar bagi penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, yang kini tampil perkasa.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar