haluannews.id – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa gemilang akhir pekan ini, berhasil menguat signifikan dan menjauhi level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Bank Indonesia (BI) tak tinggal diam, langsung mengungkapkan sederet strategi jitu yang menjadi pendorong utama di balik keperkasaan mata uang Garuda yang kini menembus angka Rp17.865 per dolar AS, menguat 0,61%.

Related Post
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa penguatan ini merupakan cerminan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan komprehensif yang telah diterapkan oleh bank sentral. Langkah-langkah strategis tersebut mencakup kenaikan suku bunga acuan BI-Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga SRBI, serta pemberian insentif lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing. Tak hanya itu, BI juga membuka akses repo untuk menjaga likuiditas perbankan dan meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing. Destry menambahkan, semua upaya ini semakin kokoh berkat sinergi erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah.

Pasca keputusan kenaikan BI-Rate, arus modal asing menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Daya tarik instrumen keuangan domestik terbukti mampu memikat investor global. Hal ini terlihat dari lonjakan aliran masuk transaksi SRBI nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp15,11 triliun pada 10 Juni dan Rp3,91 triliun pada 11 Juni 2026. Kepercayaan investor juga terpancar dari suksesnya penjualan perdana obligasi internasional Danantara yang berhasil meraup Rp26,9 triliun, membuktikan tingginya minat terhadap aset-aset Indonesia.
Selain itu, ketahanan eksternal perekonomian semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan strategis antara Bank Indonesia, People’s Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Tiga kesepakatan penting telah dicapai, yaitu penguatan stabilitas keuangan regional, peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi bilateral. Destry menjelaskan bahwa inisiatif ini krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan secara langsung mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur. Koordinasi erat dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan akan terus diperkuat demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkokoh ketahanan eksternal perekonomian nasional. Dengan berbagai perkembangan positif ini, rupiah diyakini akan terus melaju dan menguat terhadap dolar AS, menuju level fundamentalnya.










Tinggalkan komentar