Rupiah Melesat Dolar AS Terkapar Telak

Rupiah Melesat Dolar AS Terkapar Telak

haluannews.id – Rupiah menutup pekan ini dengan performa gemilang, berhasil menorehkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Jumat 4 September 2026, nilai tukar mata uang Garuda bertengger di level Rp17.630 per dolar AS, mencatatkan posisi terkuatnya dalam 15 pekan terakhir. Meskipun sempat memangkas sebagian penguatannya di akhir sesi, rupiah tetap unjuk gigi setelah mengawali perdagangan di zona hijau dengan apresiasi 0,23 persen.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,12 persen ke posisi 99,026 pada pukul 15.00 WIB. Namun, penguatan ini tak cukup membendung momentum rupiah yang masih menikmati efek domino dari pelemahan tajam dolar AS pada sesi sebelumnya. Kamis kemarin, DXY anjlok 0,69 persen, membuka ruang lebar bagi mata uang negara berkembang untuk bangkit.

Rupiah Melesat Dolar AS Terkapar Telak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Katalisator utama pelemahan dolar AS datang dari pergerakan yen Jepang yang melesat tajam, menguat lebih dari dua persen dan mendekati level terkuatnya sejak awal Mei. Lonjakan yen ini dipicu oleh spekulasi pasar yang kian memanas terkait kemungkinan Bank of Japan (BOJ) akan segera menaikkan suku bunga. Prediksi kenaikan 25 basis poin pada September kini mencapai 75 persen, terutama setelah pernyataan anggota Dewan Kebijakan BOJ, Hajime Takata, yang mengisyaratkan perlunya respons kebijakan moneter lebih cepat menghadapi inflasi. Mengingat yen merupakan salah satu komponen vital dalam perhitungan indeks dolar AS, penguatannya secara otomatis turut menyeret DXY ke bawah.

Sentimen negatif bagi dolar AS semakin menguat menyusul pernyataan Gubernur The Federal Reserve Christopher Waller. Ia mengindikasikan kemungkinan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini, asalkan data ekonomi mendatang menunjukkan meredanya tekanan inflasi. Pernyataan Waller ini sontak meredupkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed di bulan September, dengan probabilitasnya anjlok dari 59 persen menjadi 48 persen. Prospek suku bunga yang stabil membuat aset-aset berdenominasi dolar AS menjadi kurang menarik di mata investor, memberikan dorongan ekstra bagi rupiah, bahkan di tengah penguatan DXY pada sesi perdagangan hari ini.

Fokus pasar selanjutnya kini tertuju pada laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat malam waktu Indonesia. Para ekonom memproyeksikan perekonomian Paman Sam akan menciptakan 56.000 lapangan kerja baru pada Agustus, setelah sempat kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Data yang lebih lemah dari perkiraan dapat semakin memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed dan menekan dolar. Sebaliknya, laporan tenaga kerja yang kuat berpotensi kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter AS, yang bisa menjadi angin segar bagi dolar.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar