Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka dengan pelemahan pada perdagangan Kamis (25/9/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,12% ke level Rp 16.690/US$. Namun, pelemahan tersebut semakin dalam hingga menyentuh angka Rp 16.710/US$, menjadi level terlemah dalam lima bulan terakhir atau sejak April 2025. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah kemarin rupiah ditutup terkoreksi tipis 0,06% di level Rp 16.670/US$.

Related Post
Pelemahan rupiah ini masih dibayangi oleh penguatan indeks dolar AS (DXY). Meskipun pada pukul 09.00 WIB indeks dolar AS melemah 0,04% ke level 97,817, penutupan perdagangan kemarin mencatat penguatan signifikan sebesar 0,63% ke level 97,873. Penguatan ini berawal dari pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pekan lalu yang menyampaikan sikap hati-hati terkait prospek pemangkasan suku bunga.

Pernyataan Powell tersebut ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa The Fed tidak akan terburu-buru melonggarkan kebijakan moneter. Powell menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara menurunkan inflasi dan risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Hal ini membuat investor menilai peluang pemangkasan suku bunga lebih agresif semakin kecil, sehingga dolar kembali menjadi aset lindung nilai yang lebih aman.
Pasar juga tengah menanti rilis data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS. Data ini menjadi indikator penting perekonomian AS dan dapat memengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah. Dengan penguatan dolar AS secara luas, rupiah diperkirakan akan tetap melemah dalam jangka pendek, terutama karena sentimen global masih diwarnai oleh sikap hati-hati investor dalam menanti kepastian langkah bank sentral AS.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar