haluannews.id – Pelaksana Tugas (Pjs) Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti melontarkan peringatan serius mengenai prospek ekonomi global. Menurutnya, dunia kini di ambang era suku bunga tinggi yang akan berlangsung dalam jangka waktu sangat panjang, sebuah fenomena yang ia sebut sebagai "higher for longer". Pernyataan ini muncul sebagai respons atas hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) pada Kamis dini hari waktu Indonesia, 30 Juli 2026.

Related Post
Meskipun The Fed dalam rapat kebijakannya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Fed Fund Rate di kisaran 3,50-3,75%, Destry Damayanti menggarisbawahi adanya sinyal kuat dari bank sentral AS tersebut. The Fed, lanjutnya, secara jelas menunjukkan komitmennya untuk fokus menekan gejolak inflasi di negaranya. Sikap ini mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga di masa mendatang, terlepas dari keputusan saat ini. Destry menyoroti bahwa pernyataan dari Ketua The Fed terasa sangat "hawkish", mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap situasi ekonomi yang masih menunjukkan tren kenaikan.

Destry juga menekankan bahwa tren suku bunga acuan yang tinggi secara global ini tak terhindarkan akan memicu tekanan pada imbal hasil surat berharga di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, respons kebijakan moneter di Tanah Air harus mampu mengimbangi dinamika tersebut. Situasi suku bunga, imbal hasil obligasi, dan inflasi yang tinggi ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan, khususnya bagi negara-negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia. Destry menegaskan bahwa kondisi "higher for longer" ini akan sangat memengaruhi arah kebijakan ekonomi yang akan diambil oleh Bank Indonesia maupun pemerintah.










Tinggalkan komentar