Haluannews Ekonomi – Penerapan tarif timbal balik oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Agustus 2025 lalu, menimbulkan gelombang ketidakpastian di pasar global. Meskipun sebagian besar negara Asia hanya terkena tarif di bawah 20%, dampak jangka panjangnya terhadap dolar AS dan investasi global masih menjadi pertanyaan besar. Heng Koon How, Kepala Strategi Pasar UOB, mengungkapkan kekhawatirannya akan tekanan negatif terhadap nilai dolar AS.

Related Post
Ketidakpastian ini diperparah oleh belum tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok, serta tersendatnya negosiasi dengan negara-negara besar lainnya seperti India, Kanada, dan Brasil. Tarif tinggi yang diberlakukan, bahkan mencapai rata-rata 54,9% untuk impor Tiongkok ke AS menurut Peterson Institute for International Economics (PIIE), jelas mengancam pertumbuhan ekonomi global. Komitmen investasi besar yang dijanjikan beberapa negara ke AS juga diragukan pelaksanaannya, menambah kekhawatiran akan guncangan ekonomi. Belum lagi kerumitan penerapan tarif untuk sektor-sektor spesifik seperti otomotif dan farmasi.

Di tengah kompleksitas ini, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara Asia masih terlihat positif di paruh pertama tahun ini. Namun, Haluannews.id memprediksi bahwa efek penumpukan ekspor sebelum tarif berlaku akan segera berakhir, dan perlambatan ekonomi, khususnya di sektor manufaktur, akan mulai terasa. Indeks PMI manufaktur Tiongkok yang turun ke 49,3 pada Juli menjadi indikator awal. Meskipun ekonomi AS masih tumbuh 3% year-on-year di kuartal kedua, dampak negatif tarif yang semakin tinggi diprediksi akan membebani ekonomi AS di paruh kedua tahun ini, memicu kenaikan harga dan penurunan permintaan.
The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga pada September, merespon melemahnya pasar tenaga kerja AS. Langkah ini, dikombinasikan dengan kekhawatiran akan beban utang AS yang membengkak, akan membuat yield curve semakin curam dan menekan dolar AS. Lebih jauh lagi, How memproyeksikan tekanan struktural jangka panjang terhadap dolar AS akibat upaya negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada AS, memindahkan rantai pasok, dan memperkuat perdagangan intra-regional. Proses dedolarisasi ini diperkirakan akan mempercepat penurunan nilai dolar.
Haluannews.id memprediksi indeks dolar AS (DXY) akan turun menuju 97 di akhir tahun ini, dan 95 pada pertengahan tahun depan. Sementara itu, How tetap optimistis terhadap emas, memprediksi harganya akan mencapai US$3.700 per ons pada pertengahan tahun depan. Kesimpulannya, meskipun "Make America Great Again" menjadi slogan terkenal Trump, kembalinya kejayaan dolar AS tampaknya masih jauh dari harapan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar