haluannews.id – Sebuah rencana ambisius tengah digodok di negara bagian California Amerika Serikat yakni penerapan pajak kekayaan bagi para miliarder. Namun, di tengah pro dan kontra yang menyelimuti, CEO Nvidia Jensen Huang justru menunjukkan sikap yang mengejutkan. Taipan di balik raksasa chip kecerdasan buatan ini mengaku tak keberatan jika harus merogoh kocek hingga miliaran dolar demi mematuhi aturan baru tersebut. Kekayaannya yang mencapai sekitar US$155 miliar per awal Januari menempatkannya sebagai orang terkaya kesembilan di dunia, menurut laporan haluannews.id.

Related Post
Regulasi terbaru dari pemerintah California ini menargetkan pajak kekayaan tunggal sebesar 5% bagi individu dengan aset bersih di atas US$1,1 miliar. Menariknya, Huang dengan santai menanggapi wacana ini. "Saya bahkan tidak pernah memikirkannya," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV. Ia bahkan menegaskan kesiapannya untuk membayar berapapun yang ditetapkan. "Kami memilih tinggal di Silicon Valley, dan berapa pun pajak yang ingin diterapkan, tidak masalah bagi saya," tambahnya.

Usulan pajak ini pertama kali diajukan pada November 2025 oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan mendapat dukungan dari sejumlah legislator progresif AS, termasuk Rep Ro Khanna dan Senator Bernie Sanders. Skema ini diperkirakan akan menyasar sekitar 200 individu terkaya di California, dengan potensi penerimaan fantastis mencapai US$100 miliar. Dana tersebut rencananya akan dialokasikan untuk menutupi defisit anggaran kesehatan California, yang membengkak pasca pemangkasan belanja federal, serta membiayai pendidikan publik dan program bantuan pangan.
Untuk bisa menjadi undang-undang, inisiatif ini memerlukan lebih dari 870.000 tanda tangan agar dapat masuk dalam pemungutan suara pada November 2026. Jika disetujui, para miliarder yang berdomisili di California akan dikenai pajak atas semua aset berharga mereka, termasuk saham atau bisnis, terlepas dari apakah mereka memutuskan untuk pindah dari California setelah tahun 2026. Aset properti dikecualikan karena sudah dikenakan pajak tersendiri, dan pembayaran dapat dicicil hingga lima tahun.
Sikap santai Huang ini jelas kontras dengan pandangan banyak miliarder lainnya. Sejumlah pengusaha teknologi khawatir pajak kekayaan semacam ini akan memaksa para pendiri perusahaan menjual saham dalam jumlah besar demi memenuhi kewajiban likuiditas. Palmer Luckey, pendiri Anduril, misalnya, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pajak yang diusulkan akan mendorong para pendiri miliarder untuk melego sebagian besar perusahaan mereka hanya untuk membayar tagihan pajak. "Sekarang saya dan rekan-rekan pendiri saya harus mencari uang tunai miliaran dolar," tulisnya di X pada 28 Desember.
Miliarder lain, pemodal ventura sekaligus salah satu pendiri Sun Microsystems, Vinod Khosla, bahkan berpendapat bahwa pajak kekayaan akan meyakinkan para miliarder untuk angkat kaki dari negara bagian tersebut. Namun, para pendukung inisiatif ini menunjuk pada studi yang menyanggah gagasan bahwa pajak yang lebih tinggi akan menyebabkan eksodus besar-besaran orang kaya dan bisnis. Di sisi lain, laporan dari The New York Times pada 26 Desember menyebutkan bahwa pemimpin bisnis lain seperti salah satu pendiri Google, Larry Page, dan pemodal ventura Peter Thiel, dikabarkan mempertimbangkan untuk meninggalkan California sebelum akhir 2025 demi menghindari proposal pajak ini. Meskipun demikian, baik Page maupun Thiel belum mengumumkan secara terbuka perubahan tempat tinggal mereka, dan juru bicara mereka belum menanggapi permintaan komentar.
Sebagai informasi, sebagian besar kekayaan Jensen Huang berasal dari kepemilikan sekitar 3% saham di Nvidia, perusahaan semikonduktor yang kini memiliki valuasi pasar lebih dari US$4,6 triliun. Lonjakan nilai ini tak lepas dari ledakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) secara global yang terus meningkat.










Tinggalkan komentar