IHSG Menggeliat Deretan Saham Ini Siap Melejit

IHSG Menggeliat Deretan Saham Ini Siap Melejit

haluannews.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan sinyal positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri pekan dengan penguatan signifikan, melonjak 0,37% dan bertengger di level 6.525,69 pada penutupan perdagangan Jumat lalu. Kinerja impresif ini tak lepas dari dorongan kuat sektor perbankan yang menjadi tulang punggung pergerakan indeks.

COLLABMEDIANET

Saham-saham bank raksasa menjadi motor utama penguatan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memimpin dengan kenaikan 2,87%, diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang menguat 1,69%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang melesat 3,90%. Namun, beberapa emiten justru menjadi pemberat, seperti Bayan Resources (BYAN) yang merosot 3,55%, Capital Financial Indonesia (CASA) anjlok 5,21%, serta Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) yang terkoreksi 1,74%.

IHSG Menggeliat Deretan Saham Ini Siap Melejit
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen positif juga diperkuat oleh aksi borong investor asing. Mereka mencatatkan pembelian bersih fantastis senilai Rp992,64 miliar di pasar reguler, dengan total akumulasi beli bersih di seluruh pasar mencapai Rp974,57 miliar. Pergerakan ini seiring dengan tren positif di bursa saham Amerika Serikat, di mana Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq kompak menguat. Tercatat, enam dari sebelas sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di zona hijau, dengan sektor Bahan Baku memimpin kenaikan 0,62%, meskipun sektor Kesehatan mengalami tekanan 0,88%.

Akumulasi beli bersih investor asing ini bukan kejadian sesaat, melainkan telah berlangsung selama dua hari perdagangan berturut-turut, dengan nilai kumulatif mencapai Rp1,72 triliun. Angka ini menandai level tertinggi sejak Februari 2026, mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek pasar Indonesia. Indeks ETF EIDO juga turut melonjak 2,16% dan indeks MSCI Indonesia menguat 1,23%, semakin mempertegas optimisme pasar.

Di tengah euforia pasar, ada kabar penting dari FTSE Russell. Dalam tinjauan semi-tahunan September 2026, lembaga indeks global ini memutuskan untuk menghapus 29 saham emiten Indonesia dari indeks globalnya tanpa ada penambahan saham baru. Selain itu, sepuluh saham mengalami penurunan klasifikasi dari Small Cap menjadi Micro Cap, termasuk BBYB, BJBR, BTPS, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SMRA, SCMA, dan SILO. Khusus SILO, sahamnya bahkan dikeluarkan sepenuhnya dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Perubahan ini, yang akan berlaku efektif mulai 21 September 2026, didasari oleh kriteria kapitalisasi pasar yang dapat diinvestasikan. Meski demikian, FTSE Russell masih membuka ruang revisi hingga 4 September 2026, dengan penetapan final pada 7 September 2026.

Dari ranah aksi korporasi, PT Swayasa Prakarsa (SWAP), sebuah perusahaan manufaktur produk kesehatan berbasis riset, sedang dalam proses penawaran umum perdana saham (IPO). Proses book building dijadwalkan pada 24-27 Agustus 2026, dengan target pencatatan saham di BEI pada 10 September 2026. SWAP dikenal memproduksi produk elektromedis dan non-elektromedis inovatif seperti stent jantung, External Ventricular Drain (EVD), hingga ventilator neonatal. Dalam IPO ini, SWAP menawarkan harga saham antara Rp130-Rp140 per lembar, dengan target penerbitan maksimal 323 juta saham baru atau setara 30,30% dari modal setelah IPO, berpotensi meraup dana hingga Rp45,22 miliar. Dana segar ini akan dialokasikan untuk modal kerja, belanja modal termasuk pembangunan gedung baru, serta pelunasan utang afiliasi.

Sementara itu, PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) berencana melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perseroan akan menerbitkan maksimal 502,87 juta saham baru Seri B, setara 10% dari saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan akan ditetapkan minimal 90% dari rata-rata harga penutupan saham BIPP selama 25 hari bursa. Aksi korporasi ini berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan hingga 9,09% bagi pemegang saham eksisting. Dana yang diperoleh dari PMTHMETD akan digunakan untuk pengembangan usaha dan penambahan modal kerja perusahaan, dengan pelaksanaan yang dapat dilakukan secara bertahap dalam dua tahun setelah persetujuan RUPSLB pada 25 September 2026.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar