OJK Wanti Wanti Bursa RI Ada Apa di Balik IHSG

OJK Wanti Wanti Bursa RI Ada Apa di Balik IHSG

haluannews.id – Otoritas Jasa Keuangan OJK melontarkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi pasar saham Indonesia yang dinilai masih jauh dari ideal dan butuh pembenahan serius. Pernyataan tegas ini muncul di tengah gejolak pasar yang tak menentu, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG yang sempat menunjukkan sinyal positif di awal bulan Juni lalu, namun dibayangi oleh volatilitas ekstrem dan minimnya aktivitas transaksi.

COLLABMEDIANET

Pada perdagangan sesi pertama Rabu 1 Juni 2026, IHSG berhasil menutup hari dengan kenaikan 0,84 persen atau 47,39 poin mencapai level 5.690,58. Meskipun demikian, euforia penguatan ini terasa hambar lantaran total nilai transaksi yang hanya menyentuh angka Rp 5,86 triliun dari 9,89 miliar saham yang diperdagangkan. Angka ini mengindikasikan pasar masih lesu. Volatilitas menjadi sorotan utama setelah indeks sempat melesat 1 persen di pembukaan, lalu tergelincir ke zona merah sebelum akhirnya kembali menanjak hingga menyentuh level tertinggi harian di 5.728,22.

OJK Wanti Wanti Bursa RI Ada Apa di Balik IHSG
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penguatan IHSG pada hari itu didominasi oleh sektor bahan baku yang melonjak 3,52 persen, diikuti utilitas 2,17 persen, dan energi 1,31 persen. Sejumlah saham big cap menjadi pendorong utama. Bank Central Asia BBCA yang berhasil bangkit dari level 5.500-an setelah dua hari sebelumnya anjlok 11,26 persen, menyumbang 11,71 poin. Emiten milik Prajogo Pangestu, Barito Pacific BRPT, juga turut menjadi pengerek signifikan dengan kenaikan 10,12 persen menyumbang 7,31 poin. Nama-nama lain seperti TLKM BREN AMMN dan MBMA juga masuk daftar saham paling berpengaruh.

Namun, di balik geliat sesaat tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif Dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi pada Selasa 30 Juni 2026 menegaskan ada sesuatu yang tidak beres dengan pelemahan bursa saham Indonesia yang berkelanjutan. Ia menyoroti IHSG yang hingga kini masih terperangkap di zona merah, gagal mengikuti jejak bursa regional yang sudah bangkit. "Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab," ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia BEI Jakarta. Data menunjukkan IHSG sepanjang tahun berjalan telah terkoreksi tajam 34,95 persen dan pada bulan sebelumnya anjlok 7,9 persen secara bulanan.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi serangkaian tantangan berat baik dari kancah global maupun domestik. Dari panggung dunia, ketegangan geopolitik masih menjadi momok. Iran pada Selasa menyatakan tidak akan berunding dengan utusan Amerika Serikat, membuat prospek perdamaian jangka panjang kedua negara kian suram. Teheran kini fokus pada penyelesaian gencatan senjata yang disepakati dua pekan lalu sebelum membahas isu pelik seperti program nuklir.

Iran juga berencana memberlakukan tarif pelayaran di Selat Hormuz mulai pertengahan Agustus setelah masa negosiasi 60 hari berakhir, sebuah langkah yang berpotensi memicu ketegangan baru. Meski demikian, harga minyak justru terus melemah. Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB telah memperingatkan bahwa dampak konflik global berpotensi memicu lonjakan harga pangan dan energi di negara-negara rentan. Selain itu, kesepakatan sementara AS-Iran yang mencakup upaya mengakhiri konflik Israel-Hezbollah masih diragukan implementasinya. Dari Asia, S&P Global dijadwalkan merilis data RatingDog China Manufacturing PMI pada Rabu. Pada Mei 2026, aktivitas manufaktur Tiongkok sedikit melambat ke 51,8 dari rekor 52,2 di April, namun tetap melampaui proyeksi pasar 51,4 didorong permintaan domestik yang solid.

Di dalam negeri, kabar mengejutkan datang dari Badan Pusat Statistik BPS yang mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Ini merupakan defisit pertama yang dialami Indonesia setelah enam tahun berturut-turut mencatat surplus sejak Mei 2020 atau selama 72 bulan tanpa henti.

Defisit ini dipicu oleh nilai impor yang jauh lebih tinggi yakni US$ 24,81 miliar dibandingkan ekspor RI yang hanya US$ 23,20 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan defisit pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit US$ 3,76 miliar dengan penyumbang utama adalah hasil minyak dan minyak mentah. Impor secara keseluruhan melonjak 22,16 persen dibandingkan Mei

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar