haluannews.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya memecah kesunyian terkait fluktuasi tajam yang terjadi pada pergerakan harga sahamnya di lantai bursa. Melalui surat resmi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen perusahaan memberikan klarifikasi mendalam mengenai apa yang sebenarnya menjadi pemicu ketidakpastian pasar selama ini.

Related Post
Manajemen menegaskan bahwa guncangan harga saham emiten teknologi raksasa ini murni disebabkan oleh faktor teknis pasar, dan sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi fundamental maupun kinerja bisnis perusahaan yang tengah berjalan. Menurut R.A. Koesoemohadiani selaku Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GOTO, tekanan besar terhadap harga saham bermula dari keputusan dua penyedia indeks global terkemuka, yakni FTSE dan MSCI.

Rentetan masalah dimulai ketika GOTO dinyatakan keluar dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index per 22 Juni 2026. Keputusan ini diambil karena posisi saham GOTO yang tercatat di Papan Pengembangan BEI, sehingga dianggap tidak memenuhi kriteria teknis yang ditetapkan oleh FTSE. Tak berhenti di situ, pada 31 Agustus 2026, GOTO juga resmi didepak dari MSCI Global Standard Indexes.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa keputusan MSCI tersebut didorong oleh rendahnya volume perdagangan saham GOTO. Hal ini terjadi karena harga saham perusahaan sempat tertahan di level minimum bursa, yakni Rp50 per lembar, sejak Mei 2026. Kondisi ini menciptakan efek domino; ketika dikeluarkan dari indeks global, investor institusi asing, khususnya pengelola dana pasif (passive funds), wajib melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham GOTO. Namun, karena volume perdagangan yang sangat minim, para investor besar ini mengalami kesulitan untuk melepas kepemilikan mereka di pasar reguler.
Situasi pasar kemudian mengalami perubahan drastis sejak 28 September 2026, menyusul kebijakan baru dari BEI yang menurunkan batas bawah harga saham (floor price) dari Rp50 menjadi Rp1 per saham. Perubahan aturan ini memberikan ruang bagi para pemegang saham yang selama ini mengantre untuk menjual saham mereka di pasar reguler, yang pada akhirnya memicu fluktuasi harga yang signifikan.
Menanggapi kondisi tersebut, GOTO meyakinkan para investor bahwa harga saham saat ini tidak mencerminkan kekuatan fundamental bisnis mereka yang sebenarnya. Sebagai langkah strategis, perusahaan telah menyiapkan dua aksi korporasi besar. Pertama, program pembelian kembali saham (buyback) dengan plafon dana mencapai Rp3,5 triliun yang telah disetujui dalam RUPSLB.
Kedua, perusahaan berencana melakukan pengurangan modal dengan menarik kembali saham tresuri. Langkah ini merupakan perubahan strategi dari rencana awal program kepemilikan saham karyawan (ESOP/MSOP) yang sebelumnya telah disetujui. Mengingat kondisi pasar global dan nasional yang dinamis, manajemen memilih skema pengurangan modal demi kepentingan seluruh pemegang saham. Jika rencana ini disetujui, modal ditempatkan GOTO diprediksi akan mengalami penyesuaian dalam tiga bulan ke depan.










Tinggalkan komentar