haluannews.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi memperkenalkan instrumen investasi terbaru melalui peluncuran indeks IDX Commodity 20 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kehadiran indeks ini menjadi angin segar bagi para investor yang ingin memantau pergerakan harga dari kelompok perusahaan yang bergerak di sektor komoditas serta perusahaan pendukung dalam rantai pasok industrinya.

Related Post
Indeks IDX Commodity 20 dirancang khusus untuk mengukur kinerja harga dari 20 saham pilihan. Kriteria utama dalam pemilihan konstituen indeks ini adalah perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar tinggi serta tingkat likuiditas transaksi yang mumpuni di pasar modal. Dengan demikian, indeks ini diharapkan dapat menjadi acuan yang akurat bagi pelaku pasar dalam melihat tren sektor komoditas di Indonesia.

Dalam teknis penghitungannya, BEI menerapkan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted. Salah satu poin penting dalam metodologi ini adalah adanya pembatasan bobot saham tertinggi sebesar 15 persen, yang akan disesuaikan secara berkala melalui proses evaluasi. Sebagai catatan, perhitungan indeks ini sebenarnya telah ditarik mundur ke tanggal dasar pada 1 September 2021 dengan nilai dasar 100.
Untuk menjaga relevansi dan akurasi data, BEI akan melakukan dua jenis evaluasi. Pertama, evaluasi mayor yang mencakup pemilihan konstituen baru dan penyesuaian bobot, yang dijadwalkan pada bulan Februari dan Agustus dengan masa efektif pada hari bursa pertama bulan Maret dan September. Kedua, evaluasi minor yang hanya berfokus pada penyesuaian bobot, yang akan dilakukan pada bulan Mei dan November, dengan masa efektif pada bulan Juni dan Desember.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis BEI, periode efektif untuk konstituen awal ini akan berlangsung mulai 30 Oktober 2026 hingga 26 Februari 2027. Sementara itu, periode efektif untuk jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks berlaku hingga 30 November 2026.
Berikut adalah daftar 20 perusahaan yang terpilih menjadi konstituen awal dalam indeks IDX Commodity 20:
- AMMN (Amman Mineral Internasional Tbk) memimpin dengan bobot tertinggi sebesar 15,00%.
- BRMS (Bumi Resources Minerals Tbk) dengan bobot 11,35%.
- BRPT (Barito Pacific Tbk) dengan bobot 10,88%.
- MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk) dengan bobot 7,86%.
- BUMI (Bumi Resources Tbk) dengan bobot 6,99%.
- ANTM (ANTAM Tbk) dengan bobot 6,02%.
- ADRO (Alamtri Resources Indonesia Tbk) dengan bobot 4,52%.
- MBMA (Merdeka Battery Materials Tbk) dengan bobot 3,74%.
- PTRO (Petrosea Tbk) dengan bobot 3,36%.
- ENRG (Energi Mega Persada Tbk) dengan bobot 3,28%.
- AADI (Adaro Andalan Indonesia Tbk) dengan bobot 3,21%.
- INCO (Vale Indonesia Tbk) dengan bobot 2,58%.
- TINS (TIMAH Tbk) dengan bobot 2,38%.
- DEWA (Darma Henwa Tbk) dengan bobot 2,11%.
- ADMR (Alamtri Minerals Indonesia Tbk) dengan bobot 1,88%.
- MEDC (Medco Energi Internasional Tbk) dengan bobot 1,79%.
- ARCI (Archi Indonesia Tbk) dengan bobot 1,25%.
- BIPI (Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk) dengan bobot 0,99%.
- RAJA (Rukun Raharja Tbk) dengan bobot 0,91%.
- TPIA (Chandra Asri Pacific Tbk) yang juga masuk dalam daftar konstituen utama.
Peluncuran indeks ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi investor dalam melakukan diversifikasi portofolio, khususnya pada sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional melalui komoditas.









Tinggalkan komentar