IHSG Terjun Bebas Akibat Tekanan Global

IHSG Terjun Bebas Akibat Tekanan Global

haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (30/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami koreksi tajam hingga menyentuh angka satu persen pada sesi pertama. Berdasarkan data perdagangan, pada pukul 09.13 WIB, indeks berada di level 5.046,42, atau merosot sebesar 51,64 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

COLLABMEDIANET

Meskipun sempat mencoba melakukan perlawanan dengan menyentuh level tertinggi di 5.116,01 sesaat setelah pembukaan, momentum penguatan tersebut tidak mampu bertahan lama. IHSG justru terus tertekan hingga menyentuh titik terendah di level 5.043,31. Aktivitas transaksi di pagi hari ini tercatat cukup masif dengan volume mencapai 84,71 juta lot dan nilai transaksi menyentuh angka Rp1,70 triliun.

IHSG Terjun Bebas Akibat Tekanan Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual di sejumlah sektor utama. Sektor infrastruktur menjadi beban terberat dengan penurunan mencapai 1,9%. Selain itu, sektor konsumer kritikal juga terkoreksi 1,3%, disusul oleh sektor industri yang turun 1,1%. Beberapa saham yang menjadi pemberat indeks antara lain BRPT, BREN, SMMA, BRMS, dan MORA. Di sisi lain, saham-saham seperti BBCA, GOTO, CASA, ASII, dan PGAS turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan tekanan dari luar negeri. Salah satu pemicu utama adalah data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kenaikan inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) sebesar 0,5% secara bulanan. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, didorong oleh lonjakan harga energi dan barang tidak tahan lama. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.

Selain itu, meskipun ekonomi AS tumbuh kuat sebesar 3,4% pada kuartal III-2026 berkat investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), hal ini justru menciptakan ketidakpastian global. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kebijakan suku bunga domestik tidak akan secara otomatis mengikuti langkah The Fed. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa BI akan tetap fokus pada stabilitas ekonomi nasional dan menjaga nilai tukar rupiah yang sempat tertekan.

Sentimen global lainnya yang perlu diwaspadai investor adalah keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan rilis hari ini, serta data pertumbuhan ekonomi Zona Euro yang diprediksi melambat. Kombinasi dari ketidakpastian kebijakan bank sentral dunia dan data inflasi AS yang tinggi membuat investor cenderung bersikap hati-hati di pasar saham Indonesia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar