Mantan Orang Terkaya Asia Tamat di Bui

Mantan Orang Terkaya Asia Tamat di Bui

haluannews.id – Kisah dramatis Hui Ka Yan, pendiri konglomerat properti raksasa China Evergrande Group, mencapai titik akhir yang pahit. Pria yang pernah menyandang gelar orang terkaya di Asia ini kini harus menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Pengadilan di Shenzhen, China, pada Kamis 20 Agustus 2026, menjatuhkan vonis penjara seumur hidup atas serangkaian tindak pidana keuangan yang mengguncang perekonomian global.

COLLABMEDIANET

Hui Ka Yan dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan serius, termasuk suap, penipuan, dan manipulasi informasi keuangan. Kantor berita resmi Xinhua melaporkan bahwa skala kejahatan yang dilakukan Hui "sangat besar" dan perbuatannya "sangat keji," menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial yang masif. Selain hukuman penjara, pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi Hui. Tak hanya itu, Evergrande Group diwajibkan membayar denda fantastis sekitar 8,82 miliar yuan atau setara Rp20 triliun, dengan tambahan 7 miliar yuan untuk unit usahanya di dalam negeri China.

Mantan Orang Terkaya Asia Tamat di Bui
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Perjalanan hidup Hui Ka Yan adalah cerminan ambisi dan kejatuhan. Berawal dari seorang teknisi baja di Provinsi Henan, ia membangun imperium properti Evergrande dari nol. Strategi ekspansi agresif, mengandalkan pinjaman jumbo untuk mengakuisisi lahan secara besar-besaran, sembari menjual properti dengan margin keuntungan tipis demi perputaran modal cepat, sempat membawanya ke puncak kejayaan. Pada tahun 2017, kekayaan Hui melambung hingga US$45,3 miliar, menjadikannya orang terkaya di Asia versi Forbes. Penjualan tahunan Evergrande bahkan menembus angka 700 miliar yuan pada tahun 2020.

Namun, roda nasib berputar kejam. Pada tahun 2021, Evergrande gagal melunasi utang luar negerinya, memicu gelombang kepanikan di sektor properti China yang hingga kini masih menjadi beban berat bagi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Kekayaan Hui anjlok drastis, diperkirakan hanya tersisa US$3 miliar pada tahun 2023.

Hui pertama kali diamankan otoritas China pada akhir tahun 2023. Setelah tiga tahun dalam pengawasan ketat, ia akhirnya mengakui delapan dakwaan pada April 2026, termasuk penyalahgunaan dana dan penghimpunan dana masyarakat secara ilegal. Upaya restrukturisasi utang Evergrande yang mencapai lebih dari US$300 miliar juga kandas pada tahun 2024, ketika pengadilan Hong Kong memutuskan untuk melikuidasi perusahaan karena proposal restrukturisasi dinilai tidak memadai. Setahun kemudian, saham Evergrande resmi dihapus dari daftar Bursa Efek Hong Kong.

Tak hanya Hui, pengadilan Shenzhen juga menghukum 56 terdakwa lain yang terlibat dalam skandal Evergrande, dengan masa hukuman bervariasi antara 22 bulan hingga 18 tahun penjara. Di antara mereka terdapat dua putra Hui, yakni Xu Tenghe dan Xu Zhijian. Sementara itu, mantan istri Hui, Ding Yumei, yang dikabarkan kini menetap di London, masih menjadi incaran para likuidator yang berupaya melacak aset untuk mengganti rugi para kreditur.

Kejatuhan Evergrande hingga kini masih dipandang sebagai simbol meletusnya gelembung properti China, sebuah krisis yang dampaknya masih akan terasa selama bertahun-tahun mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar