Haluannews Ekonomi – PT Link Net Tbk. (LINK), emiten telekomunikasi, mencatatkan kerugian yang signifikan pada semester I-2025. Laporan keuangan terbaru yang dipublikasikan Haluannews.id menunjukkan kerugian tahun berjalan LINK membengkak hingga 145,02%, mencapai Rp691,70 miliar. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kerugian Rp282,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ironisnya, pendapatan justru meningkat.

Related Post
Pertumbuhan pendapatan usaha LINK mencapai Rp1,57 triliun, naik 47,1% dibandingkan tahun lalu yang tercatat Rp1,07 triliun. Pendapatan tersebut bersumber dari segmen korporasi, meliputi sewa jaringan (Rp579,34 miliar), TV kabel (Rp493,71 miliar), internet broadband (Rp401,734 miliar), dan pendapatan lainnya (Rp101,79 miliar).

Meskipun pendapatan meningkat signifikan, beban operasional yang tinggi menekan profitabilitas LINK. Beban jaringan yang mencapai Rp816,04 miliar dan beban penyusutan sebesar Rp833,15 miliar menjadi faktor utama penyebab kerugian yang membengkak. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi LINK dalam mengelola efisiensi operasional di tengah pertumbuhan pendapatan.
Dari sisi neraca, aset LINK per Juni 2025 mencapai Rp14,42 triliun, meningkat dari Rp13,92 triliun pada akhir Desember 2024. Liabilitas tercatat sebesar Rp10,11 triliun, sementara ekuitas mencapai Rp4,31 triliun.
Ke depan, LINK perlu melakukan strategi yang lebih agresif untuk menekan beban operasional dan meningkatkan efisiensi agar profitabilitas perusahaan dapat membaik. Pertumbuhan pendapatan yang signifikan perlu diimbangi dengan pengelolaan biaya yang lebih efektif untuk menghindari kerugian yang semakin besar.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar