haluannews.id – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta baru-baru ini mengupas tuntas misteri di balik fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam gelaran Lampung Financial Festival 2026, ia membeberkan bahwa stabilitas mata uang Garuda sangat bergantung pada hukum dasar ekonomi: keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing, terutama dolar AS.

Related Post
Filianingsih menjelaskan, dinamika ini mirip dengan mekanisme pasar komoditas. Apabila pasokan dolar di pasar domestik melimpah sementara permintaannya relatif rendah, rupiah cenderung menguat. Sebaliknya, jika permintaan dolar melonjak drastis di tengah ketersediaan yang terbatas, nilai dolar akan merangkak naik dan rupiah pun tertekan.

Indonesia memperoleh pasokan dolar dari berbagai sumber. Ekspor menjadi salah satu penyumbang devisa utama. Selain itu, investasi asing, baik melalui pembelian surat berharga pemerintah maupun penanaman modal langsung di sektor riil, turut memperkaya cadangan valuta asing negara.
Namun, ada pula faktor-faktor yang memicu peningkatan permintaan dolar. Impor barang dan jasa dari luar negeri, yang umumnya dibayar menggunakan valuta asing, secara otomatis meningkatkan kebutuhan dolar. Tak hanya itu, arus modal keluar atau outflow ketika investor asing melepas asetnya dan menarik dananya kembali ke negara asal juga dapat memicu lonjakan permintaan dolar.
Menurut Filianingsih, ada tiga pilar utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah: fundamental, struktural, dan sentimen. Faktor fundamental berkaitan erat dengan kesehatan neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan Indonesia. Sementara itu, faktor struktural mencerminkan keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing dari seluruh pelaku ekonomi, baik domestik maupun internasional.
Tak kalah penting adalah faktor sentimen, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Gejolak geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah, dapat memicu kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak ini pada gilirannya akan meningkatkan permintaan dolar AS, yang berpotensi menekan nilai rupiah. "Ketika ada perang di Timur Tengah, harga minyak naik, maka harga dolar AS juga akan meningkat," tegasnya.
Secara sederhana, rupiah akan menguat saat pasokan dolar meningkat berkat ekspor yang tumbuh dan masuknya investasi. Namun, rupiah berpotensi melemah jika kebutuhan dolar membengkak akibat impor dan penarikan modal asing. Sebagai ilustrasi, jika kurs dolar AS turun dari Rp17.000 menjadi Rp15.000 per dolar, itu adalah indikasi kuat bahwa rupiah sedang perkasa.










Tinggalkan komentar