haluannews.id – PT Indokripto Koin Semesta Tbk COIN induk usaha bursa aset digital CFX dan lembaga kliring kripto ICC mencatatkan hasil mengejutkan pada paruh pertama tahun 2026. Perusahaan ini membukukan kerugian bersih fantastis mencapai Rp3922 miliar berbalik 180 derajat dari periode yang sama tahun sebelumnya yang masih meraup laba bersih Rp2552 miliar. Defisit ini sepenuhnya berasal dari lini operasional yang terpukul.

Related Post
Laporan keuangan konsolidasian interim menunjukkan penerimaan grup pada semester I-2026 hanya Rp7464 miliar sebuah penurunan drastis 34% dibandingkan Rp11315 miliar pada semester I-2025. Ironisnya di saat pendapatan merosot beban umum dan administrasi justru melambung 34% secara tahunan mencapai Rp12107 miliar dari sebelumnya Rp9057 miliar. Kombinasi pendapatan yang menyusut dan pengeluaran yang membengkak ini membuat COIN terjerembab ke dalam rugi usaha Rp4643 miliar dari sebelumnya laba usaha Rp2258 miliar.

Meskipun mengantongi pendapatan keuangan dari bunga deposito dan jasa giro sebesar Rp781 miliar jumlah ini tak cukup menambal defisit operasional yang menganga. Alhasil kerugian sebelum pajak membengkak menjadi Rp3847 miliar dan setelah dikurangi beban pajak Rp754 juta kerugian bersih periode berjalan mencapai Rp3922 miliar. Mayoritas kerugian ini Rp3922 miliar diatribusikan kepada pemilik entitas induk sementara kepentingan non-pengendali menanggung rugi tipis Rp45 juta. Kerugian bersih per saham tercatat Rp(267) berbanding terbalik dengan laba per saham Rp204 pada semester I-2025.
Tekanan kinerja juga terlihat jelas dari sisi arus kas. Kas dan setara kas grup menyusut dari Rp36660 miliar pada akhir Desember 2025 menjadi Rp29082 miliar per 30 Juni 2026. Arus kas dari aktivitas operasi bahkan tercatat negatif Rp7135 miliar berbalik dari posisi positif Rp7118 miliar pada semester I-2025. Ini mengindikasikan penerimaan dari pelanggan yang melambat signifikan yakni Rp4324 miliar dibandingkan Rp12188 miliar sementara pembayaran kepada karyawan dan pemasok tetap tinggi. Total aset grup juga menyusut dari Rp160251 miliar menjadi Rp153073 miliar sedangkan total ekuitas turun tipis dari Rp154880 miliar menjadi Rp150958 miliar.
Lantas apa saja faktor utama yang membebani kinerja COIN hingga terperosok ke jurang kerugian?
Pertama pemangkasan tarif transaksi aset kripto secara agresif. Berdasarkan Surat Edaran Bersama CFX dan PT Kliring Komoditi Indonesia KKI tarif transaksi pasangan IDR dipangkas drastis dari sebelumnya lebih tinggi menjadi hanya 2 bps mulai 1 Maret hingga 30 September 2026 dan akan kembali turun menjadi 1 bps mulai 1 Oktober 2026. Tarif untuk pasangan Non-IDR juga mengalami penyesuaian serupa. Pemangkasan ini berimbas langsung pada pendapatan jasa transaksi spot yang anjlok dari Rp7772 miliar menjadi Rp3256 miliar menjadi penurunan terbesar di antara seluruh lini pendapatan.
Kedua beban operasional yang melonjak tidak sejalan dengan tren pendapatan. Beban gaji upah dan tunjangan naik 34% dari Rp3237 miliar menjadi Rp4353 miliar. Demikian pula beban digital dan komunikasi yang melesat 54% dari Rp1996 miliar menjadi Rp3069 miliar. Kenaikan biaya operasional yang agresif ini di tengah pendapatan yang justru menurun menjadi sorotan tajam terhadap efisiensi biaya perusahaan. Terlebih beban-beban ini bersifat tetap dan tidak otomatis menyesuaikan dengan volume transaksi bursa. Beban amortisasi aset takberwujud source code yang konsisten Rp2799 miliar setiap semester juga menjadi beban tetap signifikan.
Ketiga volume transaksi pasar kripto domestik yang cenderung melambat. Penurunan pendapatan jasa transaksi spot mengisyaratkan pelemahan aktivitas perdagangan di bursa kripto CFX. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh sentimen pasar kripto global maupun domestik serta dampak langsung dari kompresi tarif yang sudah disebutkan. Jika volume transaksi tidak tumbuh untuk mengompensasi penurunan tarif tekanan terhadap pendapatan berpotensi berlanjut pada semester II-2026 mengingat tarif IDR Pairs akan kembali dipangkas menjadi 1 bps mulai Oktober 2026.
Meski demikian di tengah gempuran kerugian ini fondasi neraca COIN masih tergolong solid. Rasio liabilitas terhadap ekuitas atau gearing ratio tercatat negatif 018 kali menandakan posisi kas bersih. Total liabilitas grup hanya Rp2115 miliar jauh di bawah kas dan setara kas sebesar Rp29082 miliar. Manajemen juga menegaskan tidak ada indikasi penurunan nilai atas goodwill aset takberwujud maupun aset digital pada periode ini. Grup juga masih menyimpan aset digital milik konsumen senilai Rp85339 miliar dalam wallet kustodian ICC meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp39883 miliar pada akhir 2025. Ini mengindikasikan basis nasabah atau aset yang dititipkan justru tumbuh meskipun belum tentu berkorelasi langsung dengan pendapatan transaksi akibat kompresi tarif.
Ke depan dengan tarif transaksi yang akan terus terkompresi hingga Oktober 2026 dan beban tetap yang sulit ditekan dalam jangka pendek pasar akan mencermati apakah COIN mampu mendorong pertumbuhan volume transaksi serta diversifikasi pendapatan. Inovasi seperti jasa IT dan cloud service yang baru muncul di semester ini senilai Rp294 miliar dan Rp098 miliar bisa menjadi kunci untuk mengimbangi tekanan margin dari sisi tarif dan membawa perusahaan kembali ke jalur profitabilitas.










Tinggalkan komentar