haluannews.id – Jakarta – PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten pengolahan udang yang berafiliasi dengan Kaesang Pangarep, tengah menghadapi gelombang tantangan finansial serius. Perusahaan ini dilaporkan terjerat dalam lilitan utang bank yang mencapai angka triliunan rupiah, ditambah dengan krisis modal kerja yang mendalam. Situasi pelik ini memaksa PMMP mengambil langkah drastis, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawannya.

Related Post
Keterbatasan modal operasional menjadi pukulan telak bagi PMMP. Saat ini, hanya satu unit pabrik di Situbondo yang masih mampu beroperasi. Untuk menjalankan roda bisnisnya secara optimal, perseroan membutuhkan suntikan modal kerja hingga US$15 juta. Demi menjaga kelangsungan usaha, manajemen PMMP bahkan harus membeli produk udang jadi dari perusahaan lain, dengan skema pembayaran yang baru dilakukan setelah hasil ekspor diterima.

Dampak krisis ini juga terasa di sektor ketenagakerjaan. Sejak tahun 2024 hingga kini, PMMP telah merumahkan 37 staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, 82 staf lainnya memilih untuk mengundurkan diri. Penurunan kapasitas produksi yang signifikan menjadi alasan utama di balik keputusan pahit ini.
Meski demikian, manajemen PMMP menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk mengubah atau mengurangi bidang usaha dalam waktu dekat. Mereka juga memastikan tidak ada pemutusan kontrak dengan para pemasok maupun pelanggan setia.
Di tengah badai ini, PMMP terus berupaya merestrukturisasi pinjaman perbankan. Proses negosiasi dengan PT Bank Permata Tbk telah membuahkan hasil, ditandai dengan penandatanganan perjanjian kredit pada 22 Desember 2025. Sementara itu, upaya restrukturisasi dengan sejumlah bank lain seperti PT Bank Resona Perdania, PT Bank SMBC Indonesia Tbk, PT Bank Maspion Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) masih menanti persetujuan dari komite masing-masing kreditur.
Perseroan juga mencatat adanya penurunan saldo utang bank selama periode restrukturisasi. Per 30 September 2024, total utang bank tercatat sebesar US$189,77 juta dan Rp159,89 miliar. Angka ini berhasil ditekan menjadi US$160,13 juta dan Rp6,33 miliar per 31 Mei 2026. Selama proses ini, PMMP telah melunasi utang pokok senilai US$29,64 juta dan Rp153,56 miliar, belum termasuk kewajiban bunga.
Berdasarkan data kreditur, PT Bank Permata Tbk masih menjadi pemegang pinjaman terbesar dengan outstanding mencapai US$53,12 juta dan Rp5,49 miliar. Disusul oleh LPEI sebesar US$30,71 juta, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta, PT Bank Central Asia Tbk sebesar US$40,29 juta dan Rp834,87 juta, PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta, serta PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta.
Dalam aspek pelaporan keuangan, audit untuk laporan tahun buku 2025 masih berlangsung dan diperkirakan rampung pada Agustus 2026. PMMP juga berencana membayar denda administratif akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan secara bertahap.
Untuk memperkuat struktur permodalan, PMMP tengah menyiapkan sejumlah strategi, termasuk melalui skema rights issue dan konversi sebagian utang usaha menjadi saham melalui mekanisme mandatory convertible note (MTN). Manajemen menegaskan, di balik semua tantangan ini, tidak ada informasi atau fakta material lain yang dapat mengancam kelangsungan usaha perseroan atau mempengaruhi harga sahamnya secara signifikan.










Tinggalkan komentar