Jepang Bikin Kejutan Suku Bunga Melambung Tinggi

Jepang Bikin Kejutan Suku Bunga Melambung Tinggi

haluannews.id – Bank Sentral Jepang (BoJ) menggebrak pasar keuangan global dengan keputusan mengejutkan, menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Langkah ini menandai era baru dalam kebijakan moneter Jepang, di tengah upaya keras meredam gejolak harga akibat krisis energi dan konflik geopolitik.

COLLABMEDIANET

Pada Selasa 16 Juni 2026, BoJ secara resmi mengumumkan kenaikan suku bunga kebijakan jangka pendek menjadi 1%, dari sebelumnya 0,75%. Ini adalah kenaikan pertama yang dilakukan BoJ pada tahun ini, setelah terakhir kali pada Desember 2025. Keputusan ini selaras dengan tren bank sentral dunia lainnya, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB), yang secara agresif memperketat kebijakan moneter untuk memerangi inflasi yang melonjak.

Jepang Bikin Kejutan Suku Bunga Melambung Tinggi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam pernyataan resminya, BoJ mengakui bahwa risiko ekonomi Jepang sempat memburuk tajam akibat konflik di Timur Tengah. Namun, dampak tersebut berhasil diredam berkat langkah-langkah pemerintah dalam menekan beban rumah tangga dari biaya bahan bakar yang tinggi, serta kemajuan signifikan dalam pengadaan pasokan energi alternatif.

Kendati demikian, BoJ menyoroti prospek harga yang masih mengkhawatirkan. Perusahaan-perusahaan terlihat meneruskan kenaikan biaya minyak satu sama lain dengan "kecepatan yang relatif cepat", yang berpotensi mendorong harga konsumen berbagai barang. BoJ secara khusus mewaspadai risiko inflasi yang mendasarinya menyimpang di atas target harga mereka, mengingat ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang yang terus meningkat.

Keputusan krusial ini diambil dengan suara mayoritas 7-1. Gubernur BoJ Kazuo Ueda tidak hadir dan tidak memberikan suara karena sedang menjalani perawatan medis akibat infeksi kista hati. Anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang tidak setuju, berpendapat bahwa risiko penurunan pertumbuhan ekonomi dari konflik Timur Tengah lebih besar daripada risiko inflasi.

Hirofumi Suzuki, kepala strategi FX di SMBC, menyoroti absennya proposal kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin. Menurutnya, ini adalah sinyal positif bagi harga aset berisiko, karena mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga yang tajam kemungkinan akan dihindari. Suzuki memprediksi BoJ akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap, kemungkinan sekitar setiap enam bulan hingga satu tahun sekali.

Pasar keuangan langsung merespons keputusan BoJ ini. Indeks Nikkei 225 melonjak 1%, mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, nilai tukar yen menguat 0,1% terhadap dolar AS, mencapai 160,215 per dolar AS, dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 2,61%.

Selain kenaikan suku bunga acuan, BoJ juga mengumumkan penghentian program pengurangan obligasinya mulai April 2027. Namun, mereka akan tetap melanjutkan pembelian sekitar 2 triliun yen obligasi pemerintah Jepang per bulan.

Kini, semua mata tertuju pada Wakil Gubernur BoJ, Shinichi Uchida. Konferensi pers yang akan ia adakan atas nama Gubernur Ueda akan menjadi kunci untuk mendapatkan petunjuk mengenai kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga di masa depan. Masato Koike, ekonom senior di Sompo Institute Plus, memperkirakan akan ada pesan hawkish, namun BoJ kemungkinan akan menghindari memberikan komitmen yang terlalu kuat.

Konflik di Timur Tengah memang sempat mempengaruhi jalur kebijakan BoJ dengan menambah tekanan inflasi melalui biaya minyak yang lebih tinggi, sekaligus merugikan ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada bahan bakar impor. Namun, kesepakatan damai antara AS dan Iran kemudian meredakan kekhawatiran pasar atas tekanan inflasi global.

Analis memprediksi inflasi konsumen inti akan kembali meningkat di atas target 2% BoJ pada akhir tahun ini, setelah sempat tergelincir di bawah level tersebut akibat subsidi pemerintah yang ditujukan untuk mengekang tagihan utilitas. Sinyal-sinyal hawkish dari BoJ sejak pertemuan April lalu telah membuat pasar hampir sepenuhnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bulan ini. Bahkan, survei Reuters menunjukkan para ekonom memproyeksikan BoJ akan kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% pada kuartal IV-2026.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar