haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali dihantam badai koreksi yang cukup dalam pada perdagangan Selasa (27/10). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot tajam sebesar 1,99% dan ditutup di level 5.266,13. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang melanda mayoritas sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Related Post
Kondisi pasar domestik yang memerah ini berbanding terbalik dengan bursa Amerika Serikat yang justru menunjukkan performa positif. Indeks Nasdaq bahkan melonjak 1,18%, sementara S&P 500 naik 0,60%. Perbedaan arah ini mempertegas adanya tekanan spesifik yang sedang dialami oleh pasar saham tanah air.

Salah satu pemicu utama tekanan jual ini adalah aksi rebalancing pada indeks WisdomTree. Langkah ini menyebabkan sejumlah emiten raksasa seperti Telkom (TLKM), PTBA, PGAS, hingga BREN harus keluar dari daftar indeks tersebut. Dampaknya, aliran dana keluar terlihat jelas melalui penurunan ETF EIDO sebesar 1,71% dan MSCI Indonesia sebesar 1,33%. Selain itu, investor asing juga melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp700,88 miliar di pasar reguler.
Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor berada di zona merah. Sektor energi menjadi yang paling terdampak dengan penurunan hingga 3,33%. Hanya sektor industri yang mampu bertahan dan memberikan warna hijau dengan kenaikan 1,43%. Di tengah hiruk-pikuk penurunan indeks, terdapat beberapa saham yang justru menunjukkan performa luar biasa. Saham BOGA mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 22,88%, disusul oleh UNTR yang naik 6,00%, serta ASII yang menguat 1,54%.
Menilik kinerja emiten secara individual, Raharja Energi Cepu (RATU) mencuri perhatian setelah membukukan lonjakan laba bersih yang sangat signifikan hingga 113,20% secara tahunan (YoY). Lonjakan ini didorong oleh keberhasilan akuisisi 20% saham Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Meski demikian, pertumbuhan ini lebih banyak ditopang oleh pos non-operasional dan keuntungan satu kali, mengingat pendapatan usaha hanya tumbuh moderat sebesar 7,20%.
Di sisi lain, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) atau Erajaya Active Lifestyle juga menunjukkan performa positif. Laba bersih perusahaan melonjak 55,08% menjadi Rp193,84 miliar hingga September 2026. Menariknya, pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi masif di segmen otomotif yang tumbuh hingga 784% secara tahunan, yang kini berkontribusi sekitar 32% terhadap total penjualan perusahaan.
Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mengambil langkah strategis di tengah fluktuasi pasar dengan merencanakan aksi pembelian kembali saham (buyback). BRIS menyiapkan dana hingga Rp500 miliar dari kas internal untuk melakukan buyback tanpa melalui RUPS. Langkah ini dijadwalkan berlangsung mulai akhir Oktober 2026 hingga Januari 2027 sebagai upaya menjaga stabilitas nilai perusahaan di mata investor.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.










Tinggalkan komentar