haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pada Rabu (28/10/2026) dengan pergerakan yang kurang bergairah. Pasar modal Indonesia tercatat dibuka melemah sebesar 0,32% atau merosot 17,06 poin, sehingga menempatkan indeks di level 5.249,07. Penurunan ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar yang tengah menanti momentum penting dari kebijakan moneter global.

Related Post
Sentimen utama yang menjadi pusat perhatian investor saat ini adalah keputusan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Dunia kini tengah menahan napas menunggu hasil rapat kebijakan The Fed yang dijadwalkan akan diumumkan dalam waktu kurang dari 18 jam ke depan. Hasil keputusan tersebut, yang diikuti dengan konferensi pers oleh Ketua The Fed, Kevin Warsh, akan menjadi penentu arah aliran modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meskipun konsensus pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75% hingga 4,00%, fokus utama investor bukan sekadar pada angka tersebut. Para pelaku pasar akan mencermati pernyataan Kevin Warsh terkait proyeksi inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja di Amerika Serikat. Jika The Fed menunjukkan sikap yang lebih hawkish atau agresif dalam kebijakan moneter, hal ini berisiko memperkuat nilai tukar dolar AS dan menekan aset-aset berisiko seperti saham di pasar berkembang. Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan akan menjadi angin segar bagi penguatan rupiah dan pasar saham.
Selain faktor global, kondisi domestik juga memberikan tekanan tambahan bagi pasar modal Indonesia. Salah satu sentimen negatif yang muncul adalah merosotnya minat investor terhadap lelang Surat Utang Negara (SUN). Berdasarkan data terbaru, total penawaran masuk pada lelang Selasa (27/10/2026) hanya mencapai Rp31,09 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 52,1% dibandingkan periode sebelumnya, yang merupakan level terendah sejak November 2024.
Kondisi lesunya permintaan ini berdampak langsung pada lonjakan yield (imbal hasil). Yield rata-rata tertimbang untuk SUN tenor 10 tahun melonjak ke angka 7,54%, level tertinggi sejak November 2022. Fenomena ini mengindikasikan adanya tekanan pada pembiayaan negara, di mana pemerintah harus membayar biaya utang yang lebih mahal. Penurunan minat pada SBN ini dikhawatirkan dapat memicu arus modal keluar (outflow) yang lebih besar, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah dan kinerja saham.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi dari China memberikan gambaran yang beragam. Laba industri di China dilaporkan tumbuh 15,5% secara tahunan (yoy) menjadi CNY 6,03 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2026. Meskipun pertumbuhan sektor manufaktur berbasis teknologi tinggi dan kecerdasan buatan (AI) masih menjadi motor penggerak, namun lesunya permintaan domestik di China tetap menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi global.
Dengan kombinasi ketidakpastian kebijakan AS dan tekanan di pasar obligasi domestik, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi yang mungkin terjadi sepanjang hari ini. Melansir laporan dari haluannews.id, pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana kebijakan moneter AS merespons dinamika ekonomi global saat ini.








Tinggalkan komentar