IHSG Terjungkal 5 Hari Beruntun: Badai Geopolitik Ancam Bursa!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa lesu pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4/2026). Setelah sempat dibuka stagnan, indeks acuan pasar modal Indonesia ini tak mampu bertahan, terkoreksi tipis 0,01% atau 0,53 poin ke level 7.378,07.

COLLABMEDIANET

Tekanan jual segera terasa, hanya berselang semenit setelah bel pembukaan, IHSG anjlok lebih dalam hingga 0,22%, menyentuh level 7.357. Ini menandai tren negatif yang berlanjut, dengan IHSG tercatat sudah lima hari perdagangan berturut-turut berada di zona merah.

IHSG Terjungkal 5 Hari Beruntun: Badai Geopolitik Ancam Bursa!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Data perdagangan pagi ini menunjukkan dominasi sentimen negatif. Sebanyak 210 saham berhasil menguat, namun 119 saham lainnya melemah, dan 312 saham stagnan. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp 268,75 miliar, melibatkan 375,06 juta saham yang berpindah tangan dalam 43.687 ribu kali transaksi. Meskipun demikian, kapitalisasi pasar masih mampu bertahan di angka Rp 13.216 triliun.

Analis Haluannews.id memprediksi, perdagangan di penghujung pekan ini masih akan dibayangi oleh sentimen negatif, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan harga komoditas minyak mentah global serta penguatan indeks dolar AS diperkirakan akan menjadi beban ganda bagi pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah.

Harga minyak Brent kembali menunjukkan taringnya, melesat lebih dari 3% dan ditutup di level US$ 105,07 per barel, mencetak rekor tertinggi sejak 7 April 2026. Di sisi lain, indeks dolar AS juga tak kalah perkasa, melonjak ke posisi 98,77, level tertinggi sejak 9 April 2026.

Kondisi serupa juga terpantau di bursa saham Asia-Pasifik yang dibuka bervariasi. Investor cenderung menahan diri dan tetap berhati-hati, meskipun ada kabar baik terkait perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian utama pasar.

Presiden Donald Trump pada Kamis (23/4/2026) mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu, menyusul pertemuan penting di Gedung Putih dengan pejabat tinggi AS. Trump bahkan mengungkapkan melalui unggahan di Truth Social bahwa "Pertemuan berjalan sangat baik!" Perpanjangan gencatan senjata sementara ini, yang semula hanya berlaku 10 hari, diharapkan memberi ruang lebih bagi upaya diplomatik. Washington juga berkomitmen untuk mendukung Lebanon dalam memperkuat pertahanannya dari ancaman Hizbullah.

Di tengah gejolak tersebut, harga minyak berjangka AS juga turut menguat sekitar 1,23%, diperdagangkan di kisaran US$ 97,03 per barel.

Dari Jepang, Indeks Nikkei 225 berhasil menguat 0,71%, diikuti oleh Topix yang naik 0,30%. Kenaikan ini terjadi setelah data inflasi inti di Jepang menunjukkan peningkatan pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, mencapai 1,8% pada Maret. Peningkatan ini, yang sesuai dengan proyeksi ekonom dan lebih tinggi dari 1,6% di Februari, sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran akan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.

Sebaliknya, bursa Korea Selatan mencatat pelemahan, dengan Indeks Kospi turun 0,23% dan Indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil bergerak datar. Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan tren negatif, berada di level 25.802, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 25.915,2. Di pasar Australia, Indeks S&P/ASX 200 juga tak luput dari koreksi, melemah 0,29%.

Pergerakan pasar global juga mencerminkan kekhawatiran serupa. Semalam di Amerika Serikat, bursa saham ditutup melemah pada Kamis (23/4/2026), terutama dipicu oleh penurunan saham sektor perangkat lunak dan kenaikan harga minyak yang tak terkendali. Ketidakpastian mengenai arah konflik di Timur Tengah menjadi sentimen utama yang menekan pasar. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,41% menjadi 7.108,40, meskipun sempat mencetak rekor tertinggi intraday baru. Indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi juga tergelincir 0,89% ke 24.438,50, setelah sebelumnya juga sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 179,71 poin atau 0,36%, ditutup pada 49.310,32.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar