Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Rabu pagi ini dengan sentimen negatif, terperosok ke zona merah. Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut dibuka melemah 0,31% ke level 7.084. Kondisi ini kontras dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang justru bergerak dalam tren positif. Perdagangan hari ini menandai kembalinya aktivitas pasar setelah libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, sebuah periode yang bagi banyak investor dikenang sebagai masa sulit akibat kinerja IHSG yang kurang memuaskan selama Ramadan.

Related Post
Pada awal sesi perdagangan, dinamika pasar menunjukkan 224 saham menguat, 142 saham melemah, sementara 327 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Total nilai transaksi mencapai Rp 1,23 triliun, melibatkan perputaran 2,40 miliar saham dalam 73.090 kali transaksi. Akibat pelemahan ini, kapitalisasi pasar turut menyusut menjadi Rp 12.549 triliun. Bahkan, sesaat setelah pembukaan, IHSG sempat terkoreksi lebih dalam hingga 0,66% sebelum kemudian secara bertahap memangkas pelemahannya.

Para pelaku pasar dihadapkan pada pekan perdagangan yang lebih singkat, hanya tiga hari hingga Jumat mendatang. Meskipun demikian, perhatian investor tetap tertuju pada serangkaian sentimen penting, baik dari ranah global maupun domestik. Dari Amerika Serikat, data seperti perkembangan uang beredar, sentimen konsumen, rilis harga impor dan ekspor, serta klaim pengangguran awal akan menjadi barometer kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam. Di sisi domestik, perkembangan uang beredar juga akan menjadi sorotan. Rangkaian sentimen ini diproyeksikan akan menjadi katalis penggerak bagi berbagai instrumen investasi, mulai dari saham, nilai tukar rupiah, hingga harga komoditas sepanjang pekan ini.
Berbeda dengan IHSG, mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik justru dibuka menguat pada Rabu pagi. Sentimen positif ini sebagian besar dipicu oleh komentar Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan potensi pembicaraan dengan Iran, meskipun Teheran telah membantah adanya negosiasi langsung. Indeks S&P/ASX 200 Australia melonjak lebih dari 1,4%, sementara Nikkei 225 Jepang naik 2,5% dan Topix bertambah 2,4%. Di Korea Selatan, Indeks Kospi melesat 2,5%, diikuti oleh indeks Kosdaq untuk perusahaan kecil yang naik 1,6%. Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan sinyal positif, berada di level 24.972, mengindikasikan potensi penguatan dibandingkan penutupan terakhir.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah mengalami penurunan pada jam perdagangan awal Asia, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 3,92% menjadi US$88,73 per barel. Sementara itu, di Amerika Serikat, kontrak berjangka saham menunjukkan kenaikan pada Selasa malam, dengan S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing menguat 0,7% dan 0,8%. Kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average juga naik 318 poin atau 0,7%. Namun, pada penutupan perdagangan Selasa, indeks pasar AS secara luas justru melemah. S&P 500 kehilangan 0,37% dan berakhir di 6.556,37, Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke 46.124,06, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,84% menjadi 21.761,89. Pelemahan ini terjadi setelah S&P 500 mengembalikan sebagian kenaikan tajam dari sesi sebelumnya, di tengah kenaikan harga minyak mentah dan berlanjutnya konflik di Iran.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar