Haluannews Ekonomi – Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengungkapkan pandangannya terkait dampak gejolak geopolitik global, termasuk konflik Israel-Iran-AS, terhadap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meskipun mengakui adanya tekanan yang signifikan terhadap pasar akibat ketidakpastian global dan pergerakan dana yang tak terduga, Mahendra menilai pelaku pasar kini telah menunjukkan ketahanan dan kedewasaan dalam merespons situasi tersebut.

Related Post
Perang di Ukraina yang belum usai, eskalasi konflik Gaza, dan kini ancaman dari ketegangan Iran-Israel, ditambah perang dagang yang berkepanjangan, menciptakan volatilitas pasar. Namun, Mahendra menekankan perbedaan signifikan dalam respons pasar saat ini. Investor, menurutnya, tidak lagi bereaksi panik, melainkan melakukan kalkulasi risiko yang lebih matang sebelum mengambil keputusan investasi.

"Kemampuan pelaku pasar dalam mencerna risiko secara realistis telah menciptakan stabilitas yang lebih tinggi dalam aktivitas pasar, termasuk pergerakan IHSG, nilai tukar, dan indikator ekonomi lainnya," ujar Mahendra dalam acara Power Lunch, Economic Update Haluannews.id, Selasa (24/6/2025).
Meski demikian, OJK tetap siaga. Langkah antisipatif seperti kebijakan auto halt dan pembatasan praktik short selling tetap diberlakukan untuk menjaga stabilitas pasar. Lebih jauh, OJK mendorong partisipasi investor institusional seperti dana pensiun, asuransi, dan BUMN untuk memperkuat struktur pasar modal. Upaya peningkatan floating share melalui penawaran umum perdana (IPO) juga menjadi fokus OJK untuk meningkatkan likuiditas dan kepemilikan publik.
Data menunjukkan peningkatan jumlah investor individu berdasarkan Single Investor Identification (SID). Namun, OJK menekankan pentingnya peran investor institusional untuk menopang pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.
Sebagai catatan, IHSG dibuka menguat pada Rabu (25/6/2025), namun kemudian terkoreksi dan ditutup turun 0,44% di level 6.838,72. Sebelumnya, IHSG mengalami penurunan signifikan seiring memanasnya situasi Timur Tengah, mencapai penurunan 4,61% sejak serangan Israel terhadap Iran.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar