IHSG Naik Tipis, Ekonomi RI Loyo?

IHSG Naik Tipis, Ekonomi RI Loyo?

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (3/6/2025) dengan penguatan tipis 0,09% atau 6,57 poin, parkir di level 7.071,64. Meski demikian, pergerakan ini masih dibayangi oleh data ekonomi domestik yang menunjukkan sinyal pelemahan. Aktivitas perdagangan pagi ini terbilang cukup ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp 195 miliar yang melibatkan 161,19 juta saham dalam 17.051 kali transaksi. Namun, kapitalisasi pasar justru mengalami penurunan menjadi Rp 12.292 triliun.

COLLABMEDIANET

Investor masih mencermati data ekonomi terbaru yang dirilis. Deflasi IHK sebesar 0,37% secara month on month (mom) pada Mei 2025, surplus neraca perdagangan yang nyaris mendekati defisit (hanya US$ 150 juta), dan kontraksi aktivitas manufaktur menjadi indikator utama melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Surplus neraca perdagangan April 2025 tercatat sebagai yang terendah dalam 60 bulan terakhir, disebabkan penurunan ekspor yang lebih tajam dibandingkan kenaikan impor.

IHSG Naik Tipis, Ekonomi RI Loyo?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Deflasi Mei 2025, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas bergejolak seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih. Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa deflasi tersebut bukan indikasi penurunan daya beli masyarakat, melainkan dampak dari kebijakan pemerintah dalam menjaga harga barang dan jasa.

Sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Mei 2025 berada di angka 47,4, menandai kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut. Pelemahan permintaan domestik dan ekspor, terutama ke Amerika Serikat, menjadi penyebab utama penurunan produksi.

Di sisi global, ketegangan antara Amerika Serikat dan China, serta AS dan Uni Eropa, turut menambah ketidakpastian pasar. Perselisihan dagang antara AS dan China yang belum terselesaikan, dan ancaman kenaikan tarif baja oleh AS terhadap Uni Eropa, berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

Meskipun IHSG dibuka menguat, sinyal pelemahan ekonomi domestik dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh investor. Pergerakan IHSG ke depannya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi selanjutnya dan penyelesaian berbagai isu global yang tengah berlangsung.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar