IHSG Meroket Sesi Pagi Investor Bernafas Lega

IHSG Meroket Sesi Pagi Investor Bernafas Lega

haluannews.id – Setelah kemarin dihantam badai koreksi tajam, Indeks Harga Saham Gabungan IHSG hari ini bangkit perkasa. Para investor di pasar modal Tanah Air bisa sedikit bernafas lega melihat pergerakan positif yang melanda seluruh sektor saham.

COLLABMEDIANET

Pada penutupan sesi pertama perdagangan, IHSG melonjak signifikan 2,69 persen mencapai level 6.041,93. Awalnya sempat tertekan di zona merah, namun indeks dengan cepat berbalik arah. Tercatat mayoritas emiten, yakni 535 saham, berhasil mengakhiri sesi dengan kenaikan, berbanding 139 yang melemah dan 134 yang stagnan.

IHSG Meroket Sesi Pagi Investor Bernafas Lega
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski penguatan terlihat masif, aktivitas perdagangan di lantai bursa belum terlalu ramai. Total nilai transaksi hanya mencapai Rp 7,97 triliun, melibatkan sekitar 13,71 miliar saham dalam 1,03 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar juga masih berada di angka Rp 10.618 triliun, belum menembus ambang batas Rp 11.000 triliun.

Kenaikan IHSG kali ini merata di semua sektor. Sektor utilitas memimpin dengan lonjakan 4,35 persen, diikuti teknologi 3,17 persen, dan consumer non-cyclicals 3,05 persen. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pendorong utama. PT Bank Central Asia Tbk BBCA menyumbang 18,74 poin, PT Mora Telematika Indonesia Tbk MORA 14,35 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI 14,11 poin. Kontribusi signifikan juga datang dari PT Astra International Tbk ASII dan PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI, serta emiten seperti BRPT BREN TLKM DSSA dan BBNI.

Prospek IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen. Salah satunya adalah hasil evaluasi MSCI yang memutuskan untuk mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market. Keputusan ini berhasil meredakan kekhawatiran pasar akan potensi eksodus dana asing besar-besaran jika status Indonesia diturunkan. Otoritas Jasa Keuangan OJK dan pemerintah menyambut baik keputusan ini sebagai cerminan kepercayaan investor global, serta berkomitmen melanjutkan reformasi pasar modal.

Namun, MSCI juga menyertakan catatan penting terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas reformasi pasar modal yang akan ditinjau kembali pada November 2026. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi regulator dan pelaku pasar.

Dari ranah global, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures PCE Amerika Serikat. Angka ini menjadi barometer utama bagi The Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Jika inflasi PCE kembali menunjukkan kenaikan, spekulasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) akan menguat, memicu penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury. Kondisi ini berpotensi menekan aset berisiko, termasuk IHSG dan nilai tukar rupiah.

Selain itu, data klaim pengangguran mingguan AS juga dinanti untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja. Kombinasi inflasi yang persisten tinggi dan pasar tenaga kerja yang solid dapat memperkuat argumen bahwa The Fed belum memiliki ruang untuk segera memangkas suku bunga.

Di tengah gejolak sentimen tersebut, indeks dolar AS yang telah menembus level 101,609 masih menjadi faktor pembatas bagi penguatan rupiah dan pasar saham domestik. Tekanan terhadap arus modal ke negara-negara berkembang pun kian terasa. Rupiah sendiri harus rela terparkir di zona merah, melemah 0,50 persen ke Rp17.925 per dolar AS pada Rabu 25 Juni 2026 kemarin, melanjutkan tren pelemahan selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar