haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil mengakhiri perdagangan hari ini Kamis 2 Juni 2026 dengan performa yang mengejutkan. Setelah sempat melesat lebih dari satu persen, indeks acuan pasar modal Indonesia ini menutup hari dengan kenaikan 0,87 persen atau setara 49,44 poin, bertengger di level 5.744,56.

Related Post
Kenaikan IHSG ini didorong oleh hampir separuh emiten yang menghuni lantai bursa. Tercatat 418 saham bergerak di zona hijau, sementara 311 saham stagnan, dan 230 lainnya mengalami penurunan. Meskipun demikian, aktivitas pasar secara keseluruhan masih cenderung lesu.

Perhatian investor masih tertuju pada likuiditas pasar yang terpantau di bawah rata-rata harian, hanya mencapai Rp 10,96 triliun. Volume saham yang diperdagangkan juga relatif kecil, yakni 19,18 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi. Namun kapitalisasi pasar sedikit terangkat melampaui Rp 10.000 triliun seiring dengan tren positif IHSG dalam dua hari terakhir.
Menurut data dari Refinitiv, beberapa sektor menjadi pendorong utama penguatan indeks. Sektor bahan baku memimpin dengan kenaikan 2,22 persen, diikuti industri yang naik 1,78 persen, konsumer non-primer 1,74 persen, dan sektor finansial yang menguat 1,67 persen.
Menariknya, hampir separuh dari total nilai transaksi hari ini didominasi oleh saham-saham bank berkapitalisasi besar. Emiten seperti BBRI, BBCA, dan BMRI secara kolektif menyumbang Rp 5,28 triliun dari total transaksi. Kontribusi signifikan ini menjadikan mereka penopang utama IHSG, dengan BBCA menyumbang 17,69 poin, BMRI 7,36 poin, dan BBRI 2,93 poin. Beberapa saham lain seperti BRPT, VKTR, dan TPIA juga turut masuk dalam daftar penggerak utama pasar.
Penguatan IHSG hari ini terjadi di tengah gempuran berbagai sentimen negatif. Badan Pusat Statistik BPS sebelumnya mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Pada Mei 2026, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar, dengan nilai ekspor US$23,20 miliar dan impor mencapai US$24,81 miliar. Ini merupakan defisit pertama sejak April 2020.
Selain itu, BPS juga melaporkan laju inflasi di Indonesia pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan atau month to month mtm. Inflasi tahun kalender tercatat 1,79 persen, sementara inflasi tahunan berada di angka 3,34 persen. Tekanan inflasi pada bulan tersebut terpantau lebih tinggi dibandingkan kondisi Mei 2026 yang mengalami inflasi 0,28 persen mtm.








Tinggalkan komentar