haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan pekan ini dengan catatan positif. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/10), indeks melonjak sebesar 0,95 persen ke level 5.439,26. Kenaikan ini memberikan angin segar bagi para pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi global yang masih fluktuatif.

Related Post
Penguatan indeks kali ini didorong oleh performa impresif sejumlah emiten. Saham VKTR menjadi primadona dengan lonjakan tajam mencapai 16,96 persen. Menyusul di belakangnya, saham MORA meroket 9,46 persen, sementara DSSA juga mencatatkan kenaikan sebesar 6,16 persen. Meski demikian, tidak semua saham bergerak searah. Beberapa saham blue chip justru mengalami koreksi, seperti BBCA yang melemah 2,90 persen, DCII turun 1,08 persen, dan AMRT yang terkoreksi 3,24 persen.

Menariknya, meski indeks menguat, aliran dana asing justru menunjukkan tren keluar. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,62 triliun di pasar reguler dan total Rp1,29 triliun jika dihitung di seluruh pasar. Secara sektoral, seluruh 11 sektor tercatat ditutup dalam zona hijau, dengan sektor Consumer Cyclical sebagai pemimpin pasar yang tumbuh sebesar 3,14 persen.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pasar saham Amerika Serikat yang cenderung lesu. Indeks Dow Jones terpantau merosot 1,23 persen ke level 52.215, S&P 500 turun 0,52 persen, dan Nasdaq terkoreksi 0,21 persen. Di pasar domestik, pergerakan IHSG masih dibayangi oleh beberapa sentimen, mulai dari ketidakpastian terkait indeks MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tekanan jual dari investor asing.
Jika menilik kinerja emiten secara spesifik, Darma Henwa (DEWA) menunjukkan performa keuangan yang sangat kuat. Perusahaan ini mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 114,55 persen menjadi Rp513,08 miliar pada periode 9 bulan pertama tahun 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan pendapatan yang mencapai Rp5,10 triliun, berkat efisiensi beban pokok pendapatan yang terjaga.
Di sisi lain, Sat Nusapersada (PTSN) mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan sebesar 65,20 persen secara tahunan. Walaupun laba bersihnya mengalami penurunan akibat kenaikan beban pokok, PTSN memiliki prospek cerah dari rencana pemerintah terkait program pembagian ponsel gratis bagi jutaan warga. Program ini berpotensi menjadi peluang besar bagi PTSN dalam sektor perakitan perangkat elektronik.
Sementara itu, Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK) tengah bersiap melakukan aksi korporasi besar melalui rights issue dengan nilai maksimal mencapai Rp8,20 triliun. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk melunasi utang serta melakukan akuisisi strategis terhadap Denway Development Limited (DDL) dan PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama yang memiliki konsesi tambang nikel luas di Morowali.
Disclaimer: Analisis dan informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan informatif, bukan merupakan perintah atau ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.










Tinggalkan komentar