IHSG Bergerak Tipis di Tengah Badai Data Global

IHSG Bergerak Tipis di Tengah Badai Data Global

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai langkahnya di awal pekan ini dengan pergerakan yang cenderung terbatas. Pada perdagangan Senin (26/10/2026), bursa saham domestik dibuka sedikit menghijau, mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar dalam menghadapi rentetan agenda ekonomi global yang sangat padat sepanjang minggu ini.

COLLABMEDIANET

Saat bel pembukaan berbunyi, IHSG tercatat berada di level 5.442,30. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis sebesar 3,04 poin atau setara dengan 0,06 persen jika dibandingkan dengan angka penutupan pada perdagangan sebelumnya yang berada di level 5.439,26. Sepanjang sesi pertama, indeks tampak bergerak dalam rentang yang sempit, dengan titik tertinggi menyentuh 5.449,35 dan titik terendah di level 5.438,75. Aktivitas transaksi pun terpantau moderat dengan volume mencapai 5,23 juta lot dan nilai transaksi menyentuh angka Rp244,76 miliar.

IHSG Bergerak Tipis di Tengah Badai Data Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi pasar yang bergerak stagnan ini bukan tanpa alasan. Para investor saat ini tengah menahan diri untuk melihat arah kebijakan moneter dari berbagai bank sentral utama dunia. Pekan ini diprediksi akan menjadi pekan yang sangat krusial bagi pasar keuangan, mulai dari sektor saham, obligasi, hingga nilai tukar mata uang dan harga komoditas.

Salah satu sorotan utama adalah keputusan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Kamis (29/10) dini hari WIB. Meski pasar memperkirakan suku bunga akan tetap di kisaran 3,75%-4,00%, pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, akan menjadi kunci. Jika The Fed memberikan sinyal kebijakan yang ketat (hawkish), hal ini berisiko memperkuat dolar AS dan menekan pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain Amerika Serikat, perhatian dunia juga tertuju pada China. Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China yang berlangsung hingga 29 Oktober akan menjadi penentu arah kebijakan ekonomi dan teknologi negara adidaya tersebut. Hasil sidang ini sangat dinantikan karena akan memberikan sinyal mengenai stabilitas iklim bisnis di China, yang secara langsung berdampak pada permintaan komoditas global dan mitra dagang seperti Indonesia.

Tak hanya itu, geliat ekonomi global lainnya juga akan diuji melalui rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) Amerika Serikat dan Zona Euro, serta data inflasi PCE Amerika Serikat. Di sisi lain, kebijakan moneter dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BOJ) juga akan memberikan warna tersendiri bagi volatilitas pasar global.

Dengan banyaknya variabel ketidakpastian, mulai dari dinamika geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga dunia, pelaku pasar di Indonesia disarankan untuk tetap waspada dan memantau pergerakan arus modal asing serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar